Oleh: Shandy Dwi Fernandi | 12 November 2011

Moralitas Ilmu Ekonomi (Kapitalisme)

Adam Smith (1723-1790) adalah seorang Bapak Ilmu Ekonomi yang secara aklamasi diakui oleh para ekonom. Beberapa karyanya yang luar biasa, menjadikan dirinya sebagai pencetus gagasan ilmu ekonomi hingga saat ini. Sejarah mencatat, dasar ilmu ekonomi sebenarnya berasal dari filusuf yunani kuno. Berasal dari kata oikos dan nomos, yang berarti mengatur kehidupan rumah tangga, dikembangkan oleh Adam Smith menjadi sebuah gagasan aplikatif yang sedikit bertolak belakang dari akar perjuangan para filusuf tersebut. Sejak zaman yunani kuno hingga munculnya gagasan Adam Smith, ilmu ekonomi menggunakan dasar kekayaan alam (merkantilisme) sebagai indikator kesuksesan.

 

Namun, seiring berjalannya waktu, Adam Smith berhasil mengeluarkan karya fenomenal yang berjudul “An Inquiry into The Nature and Causes of The Wealth of Nations” atau lebih sering disingkat dengan “The Wealth of Nations” yang berarti kesejahteraan bangsa-bangsa untuk menggugurkan hipotesis kekayaan alam sebagai indikator kesuksesan perekonomian. Karya inilah yang menjadi “kitab suci” bagi para penganut kapitalisme.

 

Secara garis besar, The Wealth of Nations ini menggambarkan bagaimana nilai tenaga kerja lebih penting ketimbang kekayaan alam. Selain itu, akar globalisasi muncul dari karya tersebut karena Adam Smith berpendapat bahwa adanya spesialisasi dalam produksi akan meningkatkan efisiensi. Intervensi pemerintah dalam perekonomian ditolak dengan tegas oleh Adam Smith, karena hal tersebut dianggap sebagai salah satu barrier (hambatan) dalam aktifitas perekonomian. Keyakinan Adam Smith didasari oleh adanya prinsip bahwa kondisi perekonomian akan terus dalam posisi equilibrium (seimbang) tanpa adanya intervensi dari pemerintah, karena selalu ada “invisible hand” (tangan tak tampak) yang akan mengembalikan kondisi perekonomian jika terjadi sebuah gejolak atau krisis yang mengguncang perekonomian.

 

Pengembangan dari teori Adam Smith telah terjadi hingga saat ini, adanya isu tentang pasar bebas maupun kelompok perdagangan bebas antar negara atau beberapa negara, hingga mengarah kepada penjajahan model baru dalam kehidupan global saat ini sebagaimana yang disampaikan oleh John Perkins. Namun, apa yang terjadi? Keindahan konsep ekonomi yang dibangun ini ternyata bertolak belakang dengan yang terjadi belakangan. Rapuhnya pilar ekonomi dunia dan besarnya ketimpangan yang terjadi menyebabkan ide dasar Adam Smith ini perlu mendapat perhatian khusus.

 

Pada pembahasan kali ini, penulis mencoba sedikit melihat bahwa ada salah satu faktor yang hilang dalam mewujudkan kesejahteraan bangsa-bangsa dalam pemikiran Adam Smith. Para pemuja kapitalisme saat ini, cenderung melupakan aspek moralitas yang menjadi pilar utama dalam pemikiran Adam Smith tersebut sehingga terjadi banyak penyimpangan. Hal tersebut (moralitas) tertuang dalam karya pertamanya yang berjudul “The Theory of Moral Sentiments”. Karya ini menjadi yang utama bagi Adam Smith saat dikukuhkan sebagai Profesor dalam bidang Logika dan Filasafat Moral, meskipun saat itu karya tersebut belum mendapat respon yang baik dari kalangan intelektual.

 

Dalam Buku The Theory of Moral Sentiments ini, Adam Smith berbicara tentang bagaimana para pelaku ekonomi harus mempunyai standar etika yang menjadi pagar bagi dirinya dari berbagai perilaku yang menyimpang dan hanya melakukan aktifitas ekonomi demi kebenaran bukan pembenaran, sebagaimana yang ia katakan,

 

“but our judgement now are often of little importance in comparison of what they were before; and can frequently produce nothing but vain regret and unvailing repentance, without always securing us from the like errors in time to come”

 

Hingga pada akhirnya, Adam Smith memperbandingkan tentang ganjaran akan perilaku kebaikan dalam hal bisnis dan perdagangan dengan perilaku kebaikan dalam hal kebenaran dan keadilan,

 

“what is reward most proper for encouraging industry, prudence, and circumspections? Success in every sort of business, and is it possible that in the whole of life these virtues should fail of attaining it. What is reward is most proper for promoting the practice of truth, justice, and humanity? The Confidence, the esteem, and love of those we live with”

 

Secara sederhana, buku ini menjadi dasar pemikiran utama Adam Smith dalam ilmu ekonomi sebagai bagian dari ilmu sosial dan kemanusiaan yang jauh dari nilai-nilai keserakahan, kecurangan, hingga penjajahan dalam bentuk ‘invasi’ ekonomi kepada pihak lain. Bahkan pada suatu kesempatan penulis berdiskusi dengan seorang Profesor Ilmu Ekonomi mengenai isi dari buku The Theory of Moral Sentiments ini, beliau mengatakan bahwa ada kaitan erat antara buku ini (The Theory of Moral Sentiments) dengan buku The Wealth of Nations. Profesor tersebut mengatakan secara khusus bahwa inti dari konsepsi mengenai invisible hands dalam kerangka kapitalisme terletak pada buku The Theory of Moral Sentiments. Hingga pada akhirnya beliau menyesalkan para penganut kapitalisme yang hanya meyakini dan mempelajari teori Adam Smith sebatas pada The Wealth of Nations.

 

Pada pembahasan di awal, kita memahami bahwa pemikiran kapitalisme sangat tidak menghendaki adanya intervensi pemerintah dalam aktifitas ekonomi dan mereka meyakini bahwa kondisi krisis ekonomi akan hilang dengan sendirinya karena adanya invisible hands yang mengatur perekonomian ke arah equilibrium (seimbang). Yang menarik adalah ketika Profesor tersebut mengatakan bahwa invisible hands tersebut merupakan aspek moral dalam aktifitas perekonomian sebagaimana yang dijelaskan dalam The Theory of Moral Sentiments. Artinya, bahwa aktifitas ekonomi yang menyimpang (moral hazard) akan menyebabkan krisis ekonomi, dan kebersihan hati manusia sebagai kekuatan utama dalam pencegahan maupun pemulihan krisis ekonomi.

 

Kemudian, sebagai seorang Muslim tentu kita sudah memahami bahwa kebersihan hati menjadi pioneer dalam kehidupan secara keseluruhan. Secara jelas dikatakan oleh Rasul bahwa ketika hati kita bersih, maka bersih pula seluruh diri kita. Lebih jauh lagi, kita pun memahami bahwa hanya Allah Swt. saja yang membolak-balikan hati manusia, yang mengontrol kehidupan manusia secara keseluruhan. Dengan demikian, pertanyaan yang mungkin muncul untuk dikaji lebih lanjut adalah, apakah yang dimaksud oleh Adam Smith pada invisible hands (tangan tak tampak) sebagai sarana koreksi alamiah aktifitas ekonomi kapitalisme adalah Tangan Tuhan (baca: Allah Swt.)?

 

Wallahu’alam Bishawab.

 

.shandy.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: