Oleh: Shandy Dwi Fernandi | 26 Oktober 2011

Selamat dan Semangat

SEKELEBAT INFO! ^^

http://www.curcol.com

Siang tadi, penulis keliling kampus bersama Pak Presiden dan Ketua Rohis Annida Islamic Centre. Ada hal yang cukup menarik perhatian, yaitu ceremony wisuda dan pelepasan mahasiswa yang telah menyelesaikan studinya di Universitas Diponegoro. Mencoba sedikit menerka, bagaimana perasaan mereka yang merayakan ceremony tersebut? Bagaimana pula mereka yang belum pernah merasakannya? Apakah ada rasa kecewa atau sedih bagi mahasiswa dan orang tua yang belum pernah merasakan ceremony tersebut? Rasanya mungkin iya, kecewa karena sang anak yang menjadi mahasiswa terlambat (atau bahkan gagal) dalam menyelesaikan studinya. Atau lebih parah lagi, kecewa kepada diri mereka sendiri (orang tua) karena telah gagal menjadi pembina dan pembimbing terbaik bagi anak-anak mereka?

Mungkin sama halnya dengan seorang murobbi (guru). Saat kita mendengar bahwa mutarobbi (anak didik) kita yang sudah lama liqo (ngaji/belajar) dengan kita ternyata membuat suatu dosa besar, apa yang kita rasakan. Pasti kita akan merasa bersalah, bahwa kita telah gagal membina dirinya. Kita telah gagal menjadi teladan bagi dirinya. Kita telah gagal menjadi guru pembawa hidayah dan keberkahan baginya. Dan kita telah gagal memberikan yang terbaik bagi dirinya, meskipun kita sadar bahwa sesungguhnya kita mau dan mampu untuk melakukan itu semua (pembinaan terbaik). Namun, karena suatu kesalahan yang disebabkan oleh binaan kita secara pribadi, bahkan tanpa sepengetahuan kita, tetap saja sebagai seorang guru yang telah membina dirinya sangat lama, pasti akan merasa sangat bersalah (menyalahkan diri sendiri) bahwa ternyata dirinya tidak mampu untuk menjadi pembina yang terbaik. Bagaimana jika hal ini terjadi pada diri kedua orang tua kita yang sudah membina kita sejak kita lahir?

Kadang, hal inilah yang dikhawatirkan, karena satu dan lain hal (kemalasan, mengambinghitamkan hal lain, mengalihkan perhatian kepada aktifitas yang lain, dsb) yang membuat studi kita keteteran, membuat orang tua merasa bersalah dan memvonis dirinya sendiri, bahwa “Ternyata aku (orang tua) telah gagal membina anakku dengan baik, karena untuk menjadikan anakku seorang sarjana saja, dimana banyak orang tua yang mampu menjadikan anaknya seorang sarjana, ternyata aku tidak bisa”, yang mungkin menyebabkan orang tua berbuat banyak dosa dan prasangka yang tidak baik kepada takdir Allah. Padahal orang tua kita itu mau dan mampu membuat kita menjadi seorang sarjana.

Hal ini seperti kisah Rasul saat Abu Thalib meninggal dalam kondisi kafir. Rasul saat itu sangat sedih, bahkan dalam Sirah dikatakan saat itu sebagai tahun kesedihan, yang salah satu faktornya adalah kematian Abu Thalib. Meskipun Allah sudah melarang Rasul untuk tidak meminta kepadaNya sebuah pertolongan di akhirat kelak bagi pamannya, namun Allah tidak pernah melarang Rasul untuk bersedih, karena itu adalah salah satu bagian dari fitrah Rasul sebagai seorang manusia. Rasul merasa sedih karena dengan kondisi dirinya yang Sangat Baik, dirinya yang Sangat Mulia, dan Berbagai macam kebaikan ataupun keistimewaan yang dimilikinya, serta kemauan dan kemampuan yang besar, yang sesungguhnya dia mampu untuk membawa hidayah kepada setiap orang, tapi ternyata dia ‘gagal’ dalam membawa hidayah bagi seorang pamannya. Seseorang yang merawatnya saat dirinya menjadi yatim piatu, seseorang yang melindunginya saat dakwah kepada masyarakat Quraisy, bahkan seseorang yang selalu berada disampingnya saat orang lain menghina dan mencampakkannya. Kita tidak berharap orang tua kita merasa menyesal dan bersalah karena ‘menganggap dirinya gagal’ dalam membina kita, padahal hanya untuk menjadi seorang sarjana, tidak lebih.

Yang diharapkan, kita bisa seperti kisah Umar bin Khaththab saat masuk Islam. Saat itu Umar menjadi momok yang menakutkan bagi kaum muslimin sebelum beliau masuk Islam. Namun, Rasul dan para sahabat tidak pernah berhenti untuk berusaha mengajak beliau masuk Islam, bahkan secara khusus Rasul mendoakan beliau dengan menyebut nama beliau agar diberikan hidayah oleh Allah. Pada akhirnya, Umar mendapatkan hidayah melalui adiknya yang sedang membaca surat Thaha, saat itu sang adik menangis bahagia dan bersyukur kepada Allah. Apalagi setelah bersyahadat dihadapan adiknya, kemudian Umar datang ke tempat Rasul, yang saat itu para sahabat sedang berkumpul. Saat masuk ruangan, seluruh sahabat langsung membentengi diri Rasul, karena belum tahu kalau Umar sudah tobat dan khawatir Umar akan langsung menyerang Rasul. Namun, Sebelum ada ‘perang’ di tempat Rasul, Umar langsung menyatakan bersyahadat di hadapan Rasul dan Para Sahabat. Apa yang terjadi? Seluruh ruangan terisi dengan gema takbir dan pujian kepada Allah, seluruh ruangan terisi dengan tangis bahagia. Bahkan pada akhirnya, kita mengetahui bahwa di tangan Umar lah Islam mampu menguasai 2/3 Dunia. Inilah sedikit hal yang kita harapkan.

Adanya sebuah tangis bahagia, seperti saat orang tua berharap kita masuk Kuliah. Adanya gema takbir dan puji-pujian kepada Allah saat mendengar kita lulus dan melaksanakan wisuda bersama. Adanya sebuah kepuasan terbaik dan senyum indah dalam diri orang tua saat mengetahui bahwa kita telah menjadi seorang sarjana. Karena setiap orang (khususnya orang tua) memiliki tingkat kepuasan dan standar kepuasan yang berbeda, selama kepuasan itu bukan dalam hal kemaksiatan, maka alangkah baiknya kita dapat berbagi kepuasan kepada orang tua kita untuk membahagiakan mereka.

HOW?

Pada dasarnya semua orang memiliki cita-cita dan impian. Tapi, semua itu harus ada target yang jelas & rencana yang sistematis, ingatlah kata Ali bin Abi Thalib,

“Gagal Merencanakan Sesuatu, maka sama dengan Merencanakan Suatu Kegagalan”

Coba inget lagi dan kita sedikit evaluasi, setiap orang punya cita-cita, tapi apakah kita sudah membuat rencana yang terukur dan pasti? Dan suatu saat, sudahkah kita siap untuk dievaluasi dan diberikan masukan. Meskipun secara mendasar, setiap orang harus bertanggung jawab atas pilihan kehidupan yang mereka ambil, tapi lebih baik sebelum mengambil sebuah keputusan, coba lebih terbuka agar semakin banyak masukan dan pertimbangan atas pengalaman dan ilmu yang belum kita ketahui. Banyak pihak luar yang memberikan masukan bukan hanya omong kosong yang tidak ada artinya, tapi berdasarkan pengalaman dan ilmu pengetahuan yang mereka ketahui.

Pada hal yang lain, coba kita baca dan pahami Syarah Hadits Arba’in Imam Nawawi yang pertama tentang “Amal tergantung Niat”. Menurut Ibnu Rojab, Syarah (penjelasan) Hadits tersebut salah satunya adalah membedakan antara Iradat (Kehendak) dengan Niat. Secara kasat mata, kedua hal tersebut sama saja. Namun, menurut Ibnu Rojab, untuk membedakannya adalah pada saat aplikasinya, yaitu bagi mereka yang beramal sesuai Niat, pasti mereka sudah memiliki rencana dan akan berusaha yang maksimal untuk mencapai Niat nya itu. Tapi, bagi mereka yang beramal sesuai Iradat (kehendak), maka dia hanya memiliki angan-angan saja yang cenderung kepada nafsu, seperti memiliki keinginan/impian yang tidak ada rencana sedikitpun untuk mencapainya. Bahkan lebih nyata lagi saat dia futur saat sedang mengamalkannya, seperti kata bijak ini

“Adanya Kelesuan/Kemalasan setelah Mujahadah (semangat), berarti ada yang salah pada fase/tahap awalnya (Niat)”

Sederhananya, kalo kita sudah memiliki sebuah Niat untuk melakukan suatu amalan, coba langsung dibuat perencanaannya. Bisa pake prinsip manajemen, POACE. Planning, Organizing, Actuating, Controlling, & Evaluating. Ini cara yang cukup mudah, untuk mengukur kemampuan diri yang pada akhirnya kita bisa tau batas kemampuan kita. Karena dalam prinsip Niat pun, Niat yang baik dan benar merupakan separuh dari nilai amal perbuatan kita, separuhnya lagi adalah amal yang dilakukan sesuai dengan rencananya dan Ilmu yang sesuai dengan ajaran Rasulullah. Dan coba kita tadabburi bersama, bukankah Allah tidak akan merubah suatu kaum melainkan kaum itu sendiri yang merubahnya?

Terakhir…

Selamat Kepada Teman-Teman yang sudah Wisuda bulan Oktober ini!

Semangat Kepada Teman-Teman yang akan Wisuda bulan-bulan selanjutnya!

Wallahu’alam Bishawab.

.shandy.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: