Oleh: Shandy Dwi Fernandi | 6 Agustus 2011

Menjadi Pembina Produktif

 “Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata” (QS. Al-Jumu’ah: 2)

 

Setiap kehidupan manusia, pasti teriring jiwa sebagai seorang pembina di dalamnya. Seorang anak laki-laki, kelak ketika sudah menjadi pria dewasa, akan menjadi pembina bagi anak dan istrinya. Bagi seorang guru, sudah jelas akan menjadi pembina bagi anak muridnya. Bahkan bagi setiap manusia yang sudah bersosialisasi dengan manusia lainnya, tiap interaksinya pasti akan ada tindakan yang masuk dalam kategori pembinaan. Itu dasar kehidupan manusia, yang selalu dibina dan membina. Selalu mendapat masukan dari orang lain dan memberikan masukan bagi masalah yang dihadapi orang lain.

Al-Qur’an surat Al-Jumu’ah ayat 2 di atas, berbicara bagaimana tata cara pembinaan personal ataupun masyarakat secara luas. Ayat ini diturunkan kepada Rasulullah Saw. sebagai petunjuk untuk merubah masyarakat Arab yang terkenal dengan ‘Kesesatan yang Nyata’. Sebuah predikat yang diberikan oleh Allah Swt. atas sikap dan pemikiran mereka (bangsa Arab saat itu) yang telah jauh dari koridor kewajaran sebagai seorang manusia. Berbagai penyakit masyarakat muncul dan berkembang dengan pesat disana, mulai dari perzinahan, pembunuhan, riba, dan berbagai macam penyakit lainnya. Secara umum, kondisi masyarakat itu dapat digambarkan dengan ciri-ciri Kebodohan, Kehinaan, Perpecahan, dan Lemah.

Melalui ayat ini, setidaknya ada tiga hal utama yang yang menjadi prioritas dalam merubah kondisi masyarakat dari ‘Kesesatan yang Nyata’ menuju masyarakat ‘Khoiru Ummah’ (Umat Terbaik). Ketiga hal tersebut mulai dari (1) Membacakan Ayat-ayat Al-Qur’an, (2) Menyucikan Jiwa, dan (3) Mengajarkan Pedoman Hidup.

Pertama, membacakan ayat-ayat Al-Qur’an ini berarti memberikan pendidikan dan ilmu pengetahuan. Tentu kita semua telah yakin bahwa segala macam ilmu bersumber dari Al-Qur’an. Dengan ilmu yang diberikan kepada mereka, diharapkan agar mereka dapat membedakan dan memilih mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang benar dan mana yang salah. Secara khusus Allah Swt. sudah memberikan banyak penekanan kepada kita semua, bahwa ilmu pengetahuan merupakan hal yang penting untuk dijadikan pedoman dalam kehidupan ini.

Kedua, menyucikan jiwa berarti upaya membersihkan diri dari akhlak yang kotor dan perbuatan jahiliyah. Mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya Islam (QS.2:257). Islam merupakan agama yang bersih, baik secara fisik (QS.74:4) maupun secara batin (QS.74:5). Jika kita mencermati beberapa kitab Fiqh, bab mengenai Thaharah (bersuci) selalu menjadi bab yang prioritas. Sedangkan dalam beberapa kitab hadits, bab niat menjadi pembahasan yang diutamakan, seperti pembahasan tentang Niat dalam kitab Hadits Arba’in Imam Nawawi.

Ketiga, mengajarkan pedoman hidup merupakan fase terakhir setelah mereka diberikan pemahaman dan dorongan untuk menyucikan jiwa. Pedoman ini sudah mengarah pada tataran praktis dan produktif, yang artinya mereka didorong untuk banyak melakukan dengan melihat keteladan yang ada disekitar mereka. Pastinya pedoman hidup yang kita berikan haruslah bersumber pada Al-Qur’an dan As-Sunnah, hingga mereka dapat merasa nyaman dan melakukannya dengan sungguh-sungguh dan berkelanjutan.

Pembahasan di atas telah memberikan pemahaman kepada kita akan pentingnya pembinaan dan perubahan dalam bermasyarakat. Pada level teknis, tidak jarang banyak pembina belum mengetahui tips and trick dalam proses pembinaan. Kesempatan kali ini penulis akan coba memberikan tiga tips and trick agar kita dapat menjadi seorang pembina yang produktif. Dikatakan produktif berarti kita tidak hanya dapat membina seseorang yang pasif, namun orang yang kita bina dapat bergerak dengan mobilitas yang tinggi sehingga binaan kita pun dapat menjadi pembina bagi orang lain.

Pertama, memperbanyak cerita. Sebagian besar pembina atau penceramah, kisah atau cerita yang memiliki hikmah dapat menarik rasa perhatian obyek dakwah kita secara signifikan. Disamping itu, cerita pun dapat membuat lawan bicara kita memiliki gambaran yang utuh tentang nilai-nilai kehidupan yang sedang kita tanamkan dalam benaknya. Melalui cerita pula, kelak akan didapatkan suatu solusi praktis dan meyakinkan dalam penyelesaian sebuah masalah. Misal saja ada seorang binaan kita yang bertanya tentang sedekah terbaik hingga menjadikan harta kita sebagai sarana untuk berjihad. Secara sederhana, kita dapat menceritakan kisah perang tabuk yang fenomenal, dimana seorang Abu Bakar memberikan seluruh hartanya untuk keperluan perang tabuk.

Kisah yang kita ambil untuk memberikan gambaran kepada binaan kita harusnya yang mengandung nilai-nilai kebaikan. Prioritas utama jelas harus bersumber dari Al-Qur’an, melalui kitab tafsir kita akan banyak disuguhkan kisah-kisah inspiratif, mulai dari sebab-sebab ayat tersebut turun, sikap masyarakat ketika ayat tersebut Rasul sampaikan, hingga hikmah yang dapat kita aplikasikan saat ini. Selain itu, kisah para Nabi dan Rasul menjadi second opinion yang utama setelah kitab tafsir. Bagi para pembina yang belum terbiasa, sebaiknya segera dibiasakan untuk berinteraksi dengan kedua hal tersebut. Namun, dalam kondisi tertentu kita diperbolehkan untuk menceritakan kisah kita sendiri, pengalaman ataupun ide apapun selama tidak bertentangan dengan syariat Islam.

Kedua, banyak mendoakan binaan kita. Senjata terbaik seorang muslim adalah doa. Sarana ini yang membuat kita dapat berkomunikasi langsung dengan Allah Swt., tanpa ada sedikit pun penghalang yang menutupinya. Doa yang kita haturkan pada-Nya tentu yang berkaitan dengan perkembangan diri dan binaan kita secara khusus, misal jika untuk binaan kita, maka kita dapat mendoakannya agar mereka dapat menerima niat baik kita untuk berbagi pengalaman dan meningkatkan ukhuwah diantara kita, menerima segala pesan Ilahiyah yang kita sampaikan dengan cara apapun, hingga kita doakan agar kita dapat bersama-sama menjalankan misi kehidupan sebagai seorang manusia selama di dunia ini, yaitu beribadah kepada-Nya dan menjadi wakil-Nya yang terbaik. Pada akhirnya kita selalu berharap dan berdoa agar kita semua dapat dipertemukan-Nya kembali di surga firdaus. Contoh doa yang paling sering dibacakan dan memberikan rasa khas adalah doa Rabithah.

Ketiga, banyak menggunakan kata ‘sayang’. Kata sayang yang dimaksud adalah kata-kata yang memiliki perhatian tersendiri jika kita mendengarnya. Dalam Al-Qur’an ini dibahasakan dengan panggilan yang baik dan menyenangkan. Kata sayang biasanya lebih sering digunakan oleh akhwat (perempuan), karena bagi para ikhwan (laki-laki) menggunakan kata tersebut menjadi hal yang aneh dan justru membuat risih. Sehingga mereka (ikhwan) lebih sering menggunakan sapaan yang sedang menjadi trend bagi binaannya, seperti bro, dek, dan berbagai macam jenis sapaan lainnya. Selama sapaan yang kita gunakan tidak mengarah pada sebuah doa yang negatif, maka hal itu masih dianggap wajar dengan pertimbangan efektifitas dakwah yang kita sampaikan kepada binaan kita.

Inilah beberapa hal yang dapat dijadikan masukan dalam proses pembinaan kita. Prinsipnya setiap pembina pasti memiliki gaya dan cara tersendiri dalam membina orang disekitarnya. Dengan niat yang tulus karena Allah Swt., dan terus berusaha tanpa menyerah akan kondisi yang ada, Insya Allah kematangan kita dalam membina akan meningkat, karena tidak jarang kita akan menghadapi kondisi binaan yang tidak wajar. Menunda untuk menjadi seorang pembina hanyalah sikap menunda diri kita untuk belajar menjadi lebih dewasa dan menunda pahala yang sudah Allah Swt. siapkan bagi kita semua.

 

Wallahu’alam Bishawab.

.shandy.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: