Oleh: Shandy Dwi Fernandi | 4 Agustus 2011

Liberal (Kebebasan) atau Independensi Sejati? Gak Mungkin!

Beberapa tahun yang lalu, kita dikejutkan oleh insiden penyerangan kepada kelompok yang menamakan dirinya AKKBB (Aliansi Kebangsaan dan Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan) oleh FPI (Front Pembela Islam). Insiden yang terjadi di Monas itu sempat menjadi headline di berbagai media cetak dan elektronik. Intinya, insiden itu disebabkan atas perbedaan pandangan antara kelompok AKKBB dan FPI dalam penyelesaian masalah Ahmadiyah. Bagi AKKBB, Ahmadiyah harus diterima dan tidak boleh diusik keberadaannya karena itu merupakan bagian dari kebebasan keyakinan mereka. Bagi FPI, Ahmadiyah salah dalam pandangan hukum di Indonesia karena telah menodai agama Islam, secara hukum Islam jamaah Ahmadiyah dianggap berdosa karena tidak mengakui Nabi Muhammad Saw. sebagai Nabi terakhir.

Setiap ada kesempatan, pimpinan AKKBB selalu memberikan wacana tentang kebebasan. Semua tentang kehidupan yang bebas, tanpa ada aturan yang tegas untuk membatasinya. Namun penulis melihat hal itu dengan rasa heran. Mereka (AKKBB) selalu mengusung ide bahwa kehidupan ini hakikatnya adalah kebebasan dalam memilih, serta pihak lain tidak diperbolehkan untuk mengusik pilihan suatu pihak, karena itu telah menciderai kebebasan yang melekat dalam diri setiap orang. Dalam insiden itu, jika kita perhatikan secara seksama, sebenarnya jamaah AKKBB telah menciderai ‘keyakinan’ mereka sendiri tentang kebebasan sejati.

Mengapa hal itu bisa terjadi? Simple, karena mereka (AKKBB) sendiri telah melarang setiap pihak yang tidak mengakui keberadaan Ahmadiyah (misal FPI) untuk mendelegitimasi Ahmadiyah di Indonesia. Jika memang mereka ‘berkeyakinan’ bahwa setiap orang bebas untuk berfikir dan bertindak seperti apapun, lalu mengapa mereka sendiri melarang kebebasan FPI yang tidak mendukung keberadaan Ahmadiyah? Mengapa mereka menggunakan dalih kebebasan sedangkan mereka sendiri merusak kebebasan pihak lain? Ketika berbagai pertanyaan seperti itu menghampiri mereka, lantas mereka mengatakan kalau Ahmadiyah itu merupakan golongan minoritas yang harus dibela dan didukung kepentingannya. Lha, kok bisa? Mendukung golongan minoritas dan menyakiti golongan mayoritas? Bukan masalah ini minoritas atau mayoritas, tapi yang menjadi perhatian secara jelas adalah inkonsistensi sikap mereka (AKKBB) dalam kebebasan kehidupan ini. Lalu kebebasan seperti apa yang sebenarnya mereka usung? Karena sejatinya sikap terbaik mereka yang mengusung ide kebebasan sejati adalah tidak memihak dan mendukung pihak manapun dengan alasan atau dalih apapun.

Setali tiga uang dengan AKKBB, pada kasus yang lain, di Indonesia ada komunitas yang menamakan diri mereka sebagai Jaringan Islam Liberal (JIL), ideologi yang diusung tidak berbeda jauh dengan jamaah AKKBB, hanya saja bagi jamaah JIL kebebasan yang mereka usung adalah kebebasan dalam beragama Islam. Ini menjadi hal yang lebih menakutkan, karena suatu agama dibawa dalam koridor tanpa aturan yang mengarahkan penganutnya menjadi hilang arah tanpa tujuan. Pada beberapa kasus, sama halnya dengan jamaah AKKBB, jamaah JIL pun memiliki pandangan yang berbeda dengan masyarakat pada umumnya. Misalnya, pada kasus pornografi dan pornoaksi, bermula dari kasus “Goyang Erotis Ngebor Inul”, “Al-Qur’an sebagai kitab porno”, hingga legalisasi dan operasionalisasi Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi.

Pada level praktisnya, dukungan moral yang diberikan oleh jamaah AKKBB dan jamaah JIL dalam kasus majalah playboy, memperlihatkan bagaimana sikap mereka yang tidak ‘idealis’, yaitu mengatakan bahwa mereka yang memperjuangkan dijebloskannya pimpinan redaksi majalah playboy ke bui itu merupakan tindakan yang arogan. Sama halnya dengan kasus Ahmadiyah, mereka berpendapat bahwa apa yang dilakukan oleh pemred majalah playboy merupakan tindakan kebebasan dalam berekspresi. Kondisi ini (dukungan JIL dan AKKBB kepada pemred majalah playboy) dipandang oleh sebagian umat Islam sebagai hal yang wajar, karena sudah jelas bagaimana ‘platform perjuangan’ mereka (JIL dan AKKBB). Intinya mereka tidak mendukung adanya dan berjalannya UU Pornografi tersebut, karena dianggap dapat mengurangi nilai-nilai kebebasan berekspresi yang secara fitrah hadir dalam diri setiap manusia.

Penulis menjadi bagian yang menilai bahwa apa yang mereka (JIL dan AKKBB) lakukan adalah hal yang wajar, akan tetapi kewajaran itu menjadi sedikit pudar karena pada kasus yang dianggap oleh masyarakat umum berkaitan dengan pornografi, justru tidak didukung oleh mereka. Ya, kasus yang beberapa bulan yang lalu sempat merebak di setiap media massa, baik lokal maupun nasional, yaitu kasus Sidang Pariporno yang dilakukan oleh Arifinto. Seorang ustadz yang dijebak oleh lawan politiknya pada akhirnya harus merelakan kursi panas yang ditempatinya itu dititipkan kepada orang lain. Secara umum, baik masyarakat bawah, menengah, hingga masyarakat atas menilai bahwa apa yang dilakukan oleh Arifinto merupakan sikap yang melanggar norma agama maupun sosial, hingga dapat mengarah pada kategori aksi pornografi.

Namun, apa yang terjadi? Sangat bertolak belakang dengan berbagai kasus pornografi yang muncul sebelumnya, hampir tidak ada satu sikap hingga dukungan baik itu secara moril maupun materiil yang diberikan oleh jamaah JIL dan AKKBB kepada Arifinto. Mereka bersyukur saat persidangan memberikan hasil yang ‘aman’ bagi pemred majalah playboy, tetapi mereka tidak bersikap sedikitpun saat Arifinto harus mengundurkan diri atas tekanan media dan masyarakat saat rekayasa kasus Sidang Pariporno yang menimpa dirinya. Penulis menjadi bertanya-tanya kembali, visi kebebasan seperti apa yang sebenarnya mereka (JIL dan AKKBB) bawa? Berbagai wacana kebebasan selalu mereka lontarkan, hingga berujung pada ide dan sikap yang cenderung provokatif, tetapi pada saat tertentu mereka seolah seperti gerakan yang tidak bernyawa.

Pandangan sejenis pun sesungguhnya sudah jelas, dalam dinamika perpolitikan nasional kita selalu disuguhkan dalam berbagai aktifitas pemilihan umum, baik itu dalam level nasional hingga daerah. Sudah jelas bahwa setiap orang memiliki hak untuk memilih siapapun yang mereka dukung. Diantara mereka mungkin ada juga (atau banyak) yang tidak memilih. Ketika ditanya mengapa mereka tidak memilih, jawaban yang sering muncul adalah mereka kecewa dengan pilihan calon ataupun sistemnya, hingga berujung pada sikap yang mereka katakan adalah ‘netral’ atau golput dalam istilah umumnya.

Secara pragmatis, memilih untuk tidak memilih merupakan bagian dari pilihan dalam setiap pemilihan umum. Namun, terlihat sangat bodoh jika kita tidak memilih dengan dalih netralitas yang didasarkan atas tidak ada calon yang meyakinkan. Lalu, apakah bagi mereka yang tidak memilih itu sadar, bahwa pasti ada pihak menginginkan suara para calon itu menurun dengan golput yang mereka lakukan? Misal saja ada seorang tokoh yang gagal dalam sebuah konvensi suatu parpol untuk dimajukan dalam pemilihan umum. Kemudian bagi calon yang terpilih, dia pasti akan memasarkan dirinya agar dipilih oleh masyarakat. Bagaimana sikap calon yang gagal? Sangat wajar dan mungkin jika dirinya akan berbalik menyerang, jika tidak dapat menggunakan kendaraan politik yang lain, mungkin saja mereka menggunakan wacana golput untuk mengurangi suara yang seharusnya diterima oleh calon yang telah mengalahkan dirinya dalam konvensi. Atau jika kita berbicara masalah sistem, maka sikap yang mereka katakan sebagai sikap yang netral tidak berpihak pada sistem manapun justru menunjukkan bahwa mereka telah mendukung sistem selain demokrasi yang saat ini sedang berkembang di Indonesia. Entah sistem yang mereka usung itu namanya apa atau berasal darimana, tetapi yang jelas bahwa sikap mereka telah menunjukkan sikap yang tidak konsisten akan netralitas yang selalu mereka sampaikan kepada publik.

Kebodohan yang sama pun penulis lihat saat melihat sikap seorang aktifis gerakan mahasiswa atas dinamika politik yang bergerak dengan cepat. Saat itu penulis bertanya kepada aktifis tersebut yang kurang lebih cuplikannya seperti berikut,

“Lho, bukannya hari ini ada aksi di Jakarta? Kok masih disini?”

“Oh, enggak. Kita dapet info kalo peta politik disana (Jakarta) lagi gak kondusif. Terlalu banyak kepentingan yang bermain. Jadi kita khawatir kalo kita kesana, kita justru dimanfaatin oleh golongan tertentu. Jadi kita gak berangkat, netral aja deh.” Jawab sang aktifis.

Setelah mendengar jawaban dari aktifis tersebut, kemudian penulis berfikir bahwa pilihan mereka untuk tidak ikut aksi tersebut merupakan sikap yang aneh (jika terlalu kasar menggunakan kata bodoh). Karena dengan dalih bersikap netral (atau seolah cuek dan tidak peduli) atas ketidakhadiran aksi saat dinamika politik sedang tidak kondusif, itu sangat mungkin terjadi bahwa sikap mereka justru tidaklah netral. Karena bagi mereka yang meramaikan aksi, sudah jelas bahwa mereka mendukung isu yang diwacanakan oleh para tokoh dibalik layar tersebut. Namun, bagi mereka yang tidak ikut aksi, baik itu dengan dasar tidak peduli ataupun netral, jelas bahwa mereka telah mendukung para tokoh yang tidak sepakat akan wacana yang akan digulirkan saat aksi berlangsung. Namun, sangat kasihan jika mereka tidak menyadari atau atau tidak merasakan dorongan tersebut, yang berarti mereka telah seperti hewan ternak yang digiring pada sebuah sebuah ladang tanpa adanya rumput sedikitpun.

Ini hanyalah pandangan sederhana dari seorang penonton wacana kebebasan yang bergulir. Atau analisa dangkal dari seorang pengamat yang tidak memiliki pengalaman yang matang. Atau mungkin gurauan anak kecil yang sedang tidak memiliki mainan dan hiburan. Hal ini bisa saja sudah basi, tapi jika dihangatkan dan diberikan sedikit bumbu, penulis harap dapat memberikan sedikit rasa nikmat. Dalam goresan tinta ini, penulis hanya ingin mengingatkan pribadi dan para pembaca sekalian, bahwa jangan pernah ragu ataupun malu untuk mengatakan jika kita berada dalam satu pihak ataupun golongan tertentu, selama itu masih dalam koridor kebaikan yang memberikan perubahan positif. Terus belajar dan berusaha, karena orang yang bersih hanyalah diberikan kepada orang yang tidak pernah melakukan apapun.

Warna putih bersih, tidak mungkin dapat langsung berubah menjadi hitam tanpa ‘mampir’ pada warna abu-abu, begitupun sebaliknya. Sebagaimana manusia yang memiliki fitrah kebaikan, tidak mungkin langsung menjadi jahat tanpa melewati fase keragu-raguan (galau). Makanya Nabi Muhammad Saw. mengingatkan kita untuk menghindari hal yang syubhat (meragukan). Seperti halnya perpindahan keyakinan keagamaan seseorang tidak dapat langsung terjadi, selain dengan cara menghilangkan nilai-nilai keagamaan yang terdapat dalam diri orang tersebut, barulah ‘ditawarkan’ nilai agama yang lain. Sama seperti pudarnya Islam di Spanyol ketika para pemudanya disuguhi berbagai macam hiburan dan kenikmatan dunia sebelum akhirnya mereka dimurtadkan dari keyakinan mereka kepada-Nya.

Wallahu’alam Bishawab.

 

.shandy.

“The Only Person Who Never Makes a Mistake, is The Person Who Never Does Anything”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: