Oleh: Shandy Dwi Fernandi | 1 Agustus 2011

Apa itu Manusia?

Di awal tulisan ini, mari kita sejenak berandai-andai. Seandainya setiap manusia yang lahir dapat langsung dapat berbicara, maka pertanyaan yang paling sering muncul mungkin “Manusia itu apa?” Sama seperti saat muncul sebuah teknologi baru yang hadir di muka bumi ini. Serempak setiap manusia akan mempertanyakan tentang teknologi tersebut.

Secara fitrah, Allah Swt. Tuhan Yang Maha Bijaksana telah menciptakan manusia dari dua unsur secara materi maupun immateri; Tanah (QS.32:7-8 & QS.15:28) dan Ruh (QS.32:9 & QS.15:29). Secara detail pun Al-Qur’an sudah menjelaskan proses penciptaan manusia secara lengkap. Dengan kedua unsur utama inilah Allah Swt. melengkapi manusia dengan 3 hal, yaitu Hati, Akal, dan Jasad.

Hati yang Allah berikan kepada kita, membuat diri kita memiliki sebuah kehendak. Berbeda dengan binatang yang memiliki hati tapi tidak memiliki kehendak, yang mereka miliki hanyalah insting, seperti insting untuk memenuhi perutnya (berburu), insting untuk memenuhi syahwatnya (kawin), dan insting untuk mempertahankan kedudukan atau wilayahnya (bertarung). Itulah sebabnya hati yang dimiliki hewan tidak dapat dipergunakan secara penuh untuk mengontrol kehidupannya.

Sebuah filosofi kehidupan yang bijak, pernah mengatakan bahwa setiap manusia yang tidak dapat menggunakan hatinya untuk mengontrol kehidupannya, maka ia dapat disamakan dengan hewan. Bahkan secara khusus sudah banyak yang menggaungkan wacana akan 3 hal yang membahayakan dalam kehidupan manusia, mulai dari harta, tahta, hingga wanita (lawan jenis). Ketiga hal itu jika kita telusuri memang menjadi penggerak utama dalam kehidupan hewani, kehidupan yang tidak dapat menggunakan hatinya untuk mengontrol kehidupannya.

Seorang manusia yang Paling Mulia, Muhammad Saw., pernah mengingatkan kita bahwa dalam diri ini terdapat suatu daging yang jika itu baik, maka baik pula seluruh tubuh kita. Ternyata yang beliau maksud adalah hati! Namun, salah satu sifat hati yang tidak dapat dihindarkan adalah tingkat fleksibilitasnya yang tinggi, atau secara sederhana sering kita katakan sering berubah-ubah. Bisa jadi hari ini kita semangat untuk belajar, besok kita justru semangat untuk bermain. Bisa jadi hari ini kita semangat untuk bekerja, besok kita justru semangat untuk bermalas-malasan. Yang dapat kita lakukan adalah senantiasa membersihkan hati kita dari berbagai kotoran, misalnya dengan doa yang Nabi ajarkan dalam memantapkan hati dalam Islam,

“Wahai Dzat yang membolak-balikan hati, kokohkan hatiku di atas agama-Mu”

Akal diberikan Sang Pencipta kepada manusia dengan tujuan agar kita dapat membedakan mana yang baik dan buruk, yang salah dan benar, yang menguntukan dan merugikan, serta berbagai hal lainnya. Binatang dalam penciptaannya pun diberikan akal, namun mereka tidak dapat menggunakannya untuk berfikir. Jadi hal yang utama mengapa manusia diberikan akal adalah agar kita dapat memiliki Ilmu, sehingga dengan Ilmu itu kita dapat menyelesaikan ujian atau masalah yang kita hadapi tanpa menimbulkan masalah baru.

Akal inilah yang membuat manusia diberikan kewajiban (syariat) oleh Sang Pencipta. Kewajiban diberikan sebagai tanda sayang-Nya kepada kita. Dia khawatir jika tidak diberikan kewajiban (syariat) maka manusia akan berbuat semaunya, meskipun sudah banyak yang melakukan hal tersebut. Seperti Fir’aun yang merasa paling besar dan kuat hingga berani mengatakan dirinya sebagai Tuhan Sang Maha Pencipta. Golongan (kafir) seperti Fir’aun inilah (memiliki akal tapi tidak dipergunakan semestinya) yang dalam Al-Qur’an Surat Al-Mulk ayat 10 dikisahkan bagaimana penyesalan mereka saat di akhirat kelak,

“Dan mereka berkata, ‘Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala.”

Pada dasarnya, kewajiban (syariat) Nya pun tidak langsung diberikan kepada kita saat kita lahir, tetapi pada waktu yang tepat, karena kewajiban (syariat) hanya berlaku bagi orang-orang yang akalnya sudah cukup. Bagi anak kecil (belum akil baligh), orang gila, orang yang sedang tertidur, orang yang pingsan, orang yang lupa ingatan, hingga orang yang sudah mati tidak diberlakukan kewajiban (syariat) tersebut.

Kelengkapan yang terakhir adalah Jasad atau fisik. Jasad yang sempurna ini menjadikan kita sebagai makhluk yang paling ‘wah’ dibandingkan dengan makhluk yang lain, karena kita dapat beramal dengan kualitas yang lebih baik dan kuantitas yang lebih banyak. Mungkin ada beberapa diantara manusia yang tidak memiliki jasad yang sempurna, tetapi dalam kondisi tersebut sesungguhnya dia dilebihkan pada sisi yang lain, seperti seorang Helen Keller yang mampu menjadi seorang Ahli Hukum ditengah kekurangsempurnaan kondisi jasadnya.

Pada akhirnya, ketiga kekuatan (Hati, Akal, dan Jasad) yang Allah Swt. berikan kepada manusia dibandingkan dengan makhluk yang lain, menjadi dasar bagi-Nya untuk memberikan sebuah amanah kepada kita (QS.33:72), yaitu untuk Beribadah kepada-Nya (QS.51:56) dan menjadi Khilafah (wakil) Nya di dunia ini (QS.2:30). Sebagaimana profesionalisme kerja pada umumnya, aktifitas dalam menjalankan amanah ini pun akan dinilai dengan sebaik-baiknya. Bagi kita yang dapat melaksanakannya dengan baik maka akan mendapatkan sebuah reward atau penghargaan berupa pahala. Sebaliknya, jika kita tidak dapat melaksanakannya dengan baik, maka akan mendapatkan sebuah punishment atau hukuman berupa dosa. Keduanya akan dipublikasikan pada saat kita menghadap-Nya di sidang kehidupan dari Sang Maha Adil.

Wallahu’alam Bishawab.

.shandy.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: