Oleh: Shandy Dwi Fernandi | 24 Juli 2011

Dasar, Kafir…!!

Malam yang sejuk itu memang beda, lantunan puji-pujian bagiNya terdengar sangat merdu dan teratur. Jamaah sholat isya di masjid  itu selalu melakukan ritual khusus di tiap akhir tahun, mereka yang mayoritas mahasiswa memiliki semangat tersendiri dalam melantunkan doa kepada Sang Pencipta. Moment kali ini pun bertambah spesial karena di akhir tahun ini mereka akan segera menghadapi ujian akhir semester.

Setelah melantunkan harapan kepadaNya, beberapa mahasiswa berkumpul untuk saling bersilaturahim dan bertegur sapa, ada yang membicarakan kemenangan beruntun timnas PSSI pekan lalu dalam piala AFF, ada yang sekedar basa-basi formalitas untuk menjaga hubungan saja, hingga ada pula yang membicarakan masalah dinamika sosial politik bangsa ini. Namun, diantara beberapa kelompok tersebut ada yang menarik perhatian seorang ‘yang dituakan’ di lingkungan tersebut. Mas Rahman, begitulah mungkin beberapa adik-adik, teman, ataupun para dosen memanggil dirinya.

Mas Rahman adalah seorang mahasiswa tingkat akhir yang memiliki kepribadian yang menarik. Selain berprestasi dalam akademik, dia pun sangat lihai dalam mengelola organisasi. Tidak hanya itu, dia yang fasih dalam berbahasa asing  juga selalu menarik perhatian orang-orang sekitar ketika membacakan Surat CintaNya. Maka tidak heran jika beberapa adik angkatan ataupun teman sejawatnya yang ingin belajar baca Al-Qur’an, khususnya Tahsin Qur’an, selalu menjadikan dirinya sebagai referensi. Mungkin inilah maksud orang tuanya memberikan nama tersebut, berharap kelak Mas Rahman mampu menjadi hamba Tuhannya yang taat dan ikhlas dalam berbagi kasih sayang kepada siapapun.

Mas Rahman yang pendiam itu tiba-tiba tertarik pada sekelompok mahasiswa yang sedang asyik dalam bertukar pikiran di sudut beranda masjid. Disana terlihat sepuluh mahasiswa yang bersilat lidah. Karakter yang berbeda diantara mereka, membuat pembicaraannya pun semakin menarik. Hal ini bermula dari sosok Bangun yang menjadi aktor intelektual dibalik ‘keributan’ tersebut. Bangun mahasiswa tingkat dua yang memiliki pemikiran yang kritis konstruktif, dia selalu mempertanyakan hal-hal yang dirasa kurang jelas baginya, seperti pertanyaan dia kepada kakak angkatan yang ada di forum itu.

“Mas, aku pernah ditanya temenku nih, tapi aku gak tau gimana jawabnya yang enak. Temenku itu nanya gini mas, ‘Ngun, agamaku kan Islam, tapi kalo aku nggak Sholat, aku tetep dianggep sebagai Muslim gak ya? Soalnya setau ku, orang Islam kan harus Sholat.’” Bangun memang termasuk anak yang supel dalam bergaul. Teman-temannya sangat bervariasi, sehingga sering kali dia yang rajin datang mentoring agama Islam pun ditanyakan seputar hukum-hukum Islam.

“Waktu itu aku pernah denger di kajian. Kalo sholat itu kan rukun Islam, yang namanya rukun itu harus dilaksanain. Kalo rukunnya gak dilaksanain, ya batal dong! Kayak sholat, ada yang rukun ada yang sunnah. Kalo yang rukun gak dijalanin, ya sholatnya nggak sah! Jadi temenmu itu Islamnya udah nggak sah, Ngun.” Jelas Rachman.

Rachman, mahasiswa tingkat tiga yang sangat tertarik dengan Ilmu Islam. Pengalaman sewaktu di SMA dulu membuatnya termotivasi untuk terus merubah diri. Waktunya selama SMA sering dihabiskan dengan kongkow-kongkow bersama teman-temannya, sehingga dia bertekad untuk dapat memanfaatkan waktu yang masih Allah berikan kepadanya untuk mempelajari Islam secara mendalam. Tapi sayang, semangat menuntut Ilmu nya kurang diimbangi dengan semangat mengamalkannya, hingga pada beberapa kondisi masyarakat yang tidak lazim, membuat dirinya kesulitan dalam menyampaikan pesan Ilahiyah yang Agung.

“Wuih, kalo gitu temenmu itu kafir, Ngun! Diakan udah ndak sah tuh Islamnya. Kata kiai ku dulu waktu di desa, orang kafir itu harus diperangi.” Tambah Prasetyo.

Mahasiswa asal lumbung minyak itu memang sering meledak-ledak dalam mengekspresikan perasaan ataupun pemikirannya. Kondisi itu terkadang menjadi boomerang bagi dirinya. Meskipun demikian, hal itu murni didasari oleh semangat pergerakan yang tinggi dan prinsip fastabiqul khoirot dalam kehidupannya. Dia akan merasa ‘cemburu’ manakala melihat temannya lebih baik amalnya ketimbang dirinya.

“Eh, tunggu dulu dong! Ente jangan sembarangan ngomong gitu! Kata murobbi ane waktu di SMA, kita kudu dudukin permasalahannya dengan jelas. Biar kagak ada fitnah. Emang ente mau kalo ente kagak salah terus disalah-salahin ama orang lain? Contoh nih ye, misal ente lagi naik motor, tiba-tiba ada polisi nyuruh ente minggir. Pas ditanya katanya ente nerobos lampu merah, padahal ente kagak nerobos tuh lampu, gimane coba perasaan ente?” Tandas Huda.

“Yo  ndak enak tho ya, aku kan bener, kenapa disalah-salahin?!?” Lanjut Prasetyo dengan nada yang lebih tinggi.

“Nah, makanye kalo ada masalah, ente jangan langsung main hakim sendiri. Sapa tau temennye Bangun itu lagi di jalan terus kagak tau gimana hukumnya sholat kalo lagi perjalanan jauh. Nabi aje waktu hijrah ke Thaif ngajak masyarakat masuk Islam ditolak mentah-mentah, malah dapet hinaan dan siksaan juga. Apa coba yang Nabi lakuin?” Huda mulai menjelaskan dengan gaya ustadz Ibukota, memberikan analogi Siroh Nabi agar lebih mudah dipahami oleh objek dakwahnya. Pengalaman aktifitasnya selama di Kerohanian Islam semasa SMA membuat dirinya tidak begitu asing dengan sejarah kehidupan Nabi.

“Kalo gak salah Nabi malah nge-do’ain masyarakat Thaif, betul gak mas?” Tanya Ahmad yang juga sudah cukup familiar dengan Siroh Nabi ketika menempuh pendidikan menengah atas masuk dalam kategori sekolah Islam.

Ahmad teman sekelas Bangun adalah mahasiswa asal Depok yang perawakannya sangat kurus. Perbedaan fisik ini memang dianggap wajar oleh teman-temannya, karena konon Bangun termasuk mahasiswa yang sangat menjaga kebugaran fisiknya, sebagaimana Umar bin Khaththab ataupun Hamzah bin Abdul Mutholib. Teman-temannya sering melihat dia rutin memasuki sport center di sekitar kampus. Berbeda dengan Ahmad yang lebih sering menghabiskan waktu luangnya dengan mengutak-ngatik notebook. Namun, Ahmad memiliki kelebihan dalam menghafal Al-Qur’an, dia termasuk mahasiswa yang cepat dalam menghafal ayat-ayat cintaNya walaupun hidup dalam lingkungan yang sangat hedon.

“Iye, kalo kagak salah Nabi nge-doa’in masyarakat Thaif supaya Allah mengampuni dan memberikan hidayah kepada mereka. Nabi bilang ke Allah, kalo apa yang dilakuin ama orang-orang Thaif itu karena mereka gak tau.”

“Jadi sapa tau temennye Muhammad Bangun itu kagak sholat waktu di jalan karena emang kagak tau.” Jelas Huda.

“Tau nih si Pras, main justifikasi orang seenaknya aja, apalagi masalah kafir-kafiran. Kemaren kan waktu di tatsqif Ustadz Ari juga udah jelasin masalah hukumnya mengkafirkan sesama muslim. Makanya dateng tatsqif dong.” Sahut Ibrahim, teman satu kos Huda yang paham apa yang disampaikan oleh Huda.

“Ah! Gaya lu im, baru dateng tatsqif kemaren aja udah belagu.” Tandas Pras, dengan nada ke-betawi-betawian akibat seringnya bergaul dengan teman yang berasal dari Ibukota.

”Bukannya gitu pras, tapi gue inget kemaren kalo gak salah Ustadz Ari nyampein hadits ‘Barangsiapa menuduh kafir seorang Mukmin maka ia seperti membunuhnya’. Mangnya lo mau ngebunuh temennya Bangun?” Tambah Ibrahim dengan mengutip hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim.

“Ya nggaklah! rugi banget gue ngebunuh temennya dia”, lanjut Pras sambil menunjuk ke arah Bangun.

“Hmm…kok aku malah jadi bingung ya, sebenarnya yang bener itu yang dibilang sama Rachman ato sama si Huda?” Wahyu menambahkan. Dia satu-satunya warga pribumi yang masuk dalam lingkaran malaikat tersebut. Lingkaran yang terus mengkaji Ilmu Islam maupun perkembangan Ilmu Pengetahuan kontemporer. Maka tidak heran jika ada yang mengatakan lingkaran tersebut sebagai lingkaran malaikat, karena hal tersebut didasarkan pada sebuah hadits yang menjelaskan bahwa dimana ada forum/majelis Ilmu, maka malaikat akan menghadirinya.

“Udah-udah, jangan pada sotoy deh, gimana kalo kita langsung aja tanya ke ahlinya, nih aku bawain ustadznya?” Potong Harianto yang langsung membawa mas Rahman ke forum tersebut. Harianto memang kurang begitu suka dengan debat kusir, tanpa ada kejelasan dari orang yang memang dianggapnya kompeten. Dia selalu mengambil inisiatif praktis jika ada masalah yang menghadapi dirinya ataupun teman-temannya. Berbeda dengan mayoritas mahasiswa pada umumnya yang lebih suka berdiskusi normatif tanpa menghasilkan sebuah solusi yang dapat langsung dirasakan oleh masyarakat. Pada perdebatan ini pun diam-diam Harianto keluar dari forum dan langsung mengajak mas Rahman untuk bergabung.

Mas Rahman yang sudah memperhatikan diskusi mereka pun langsung dapat connect dengan ‘keributan’ yang terjadi. “Ada apa nih? Kayaknya lagi seru yah?” Basa-basi Mas Rahman kepada adik-adiknya.

“Jadi gini Mas, to the point aja ya, intinya kalo kita gak sholat itu kita masih dianggep Muslim apa nggak sih?” Wahyu mulai pembicaraan dengan lebih serius. Dia memang kurang begitu suka dengan canda yang berlebihan, bahkan membuat kondisi menjadi ribut, yang pada akhirnya tidak menghasilkan kebermanfaatan sedikitpun. Kehadiran Mas Rahman membuat dirinya menjadi lebih serius dan fokus dengan topik diskusi yang sedang berlangsung.

“Iya Mas, kalo kata si Rachman & Pras, kalo Muslim gak sholat berarti dia udah gak jadi Muslim lagi. Tapi kalo kata si Huda & Ibrahim, dia tetep jadi Muslim soalnya dia gak tau fiqih seputar sholat. Nah, kalo menurut Mas Rahman gimana?” Tambah Harianto.

Mas Rahman memberikan senyuman kecil kepada mereka. Dalam hatinya, Mas Rahman terus melantunkan Syukur kepada Allah karena telah dipertemukan dengan adik-adik yang kritis dan aktif itu. Mereka bukan hanya suka mempelajari Ilmu Islam, tapi juga suka mengamalkannya, sehingga sering muncul pertanyaan-pertanyaan unik dari mereka ataupun teman-teman mereka atas realita kehidupan kampus yang terjadi.

“Hmm….ada yang pernah baca hadits Arbain Imam Nawawi?” Mas Rahman mulai pembicaraan dengan nada yang serius, tapi dengan sikap yang tenang dan bijak.

“Insya Allah udah, Mas.” Jawab mereka serentak.

“Nah, di 40an hadits yang ‘dikumpulkan’ oleh Imam Nawawi itu, ada hadits yang dikatakan oleh beberapa ulama sebagai ummul hadits, ada yang tau?” Tanya Mas Rahman kepada mereka. Mas Rahman memang sering melontarkan pertanyaan kepada objek dakwahnya sebelum memberikan penjelasan. Selain karena ingin mengetahui seberapa jauh objek dakwahnya mengetahui apa yang akan disampaikannya, dia pun ingin memahami lebih dekat kondisi emosi yang sedang dirasakan oleh objek dakwahnya.

“Ummul Hadits? Yang aku tau Ummul Qur’an, Mas.” Sahut Ahmad kepada Mas Rahman.

“Itu mah gue juga tau, Surat Al-Fatihah kan?” Ibrahim mencoba menjawab apa yang Ahmad tanyakan.

“Iya betul, Surat Al-Fatihah itu Ummul Qur’an, atau disebut sebagai ‘induk’nya Al-Qur’an. Disana terdapat intisari dari kandungan Al-Qur’an.” Jelas Mas Rahman atas pertanyaan Ahmad.

“Kalo Ummul Hadits yang terdapat di Hadits Arbain Imam Nawawi itu adalah hadits yang kedua. Hadits tersebut menceritakan tentang Islam, Iman, Ihsan, dan Hari Kiamat.” Tambah Mas Rahman.

“Terus apa hubungannya sama diskusi kita? Yang lagi kita bahas kan tentang sholat, kenapa bawa-bawa kiamat segala, Mas?” Potong Rachman kepada Mas Rahman.

“Jadi, dalam syarah (penjelasan) Hadits Arbain yang kedua itu, Ibnu Rajab menyampaikan terdapat perbedaan pendapat dari masalah yang tadi kalian bicarakan (masalah sholat atau tidak). Lanjut Mas Rahman.

“Apa yang Rachman & Pras sampaikan benar, seperti yang disampaikan oleh Umar bin Khaththab ketika melihat ada seorang Muslim yang sudah mampu berhaji namun tidak berangkat haji, ketika itu Umar pun langsung mewajibkan pembayaran jizyah terhadap mereka, karena Umar sudah tidak menganggap mereka (yang tidak berhaji tapi mampu) sebagai seorang Muslim. Atau sama seperti apa yang disampaikan oleh Ibnu Mas’ud yang mengatakan bahwa orang yang tidak membayar zakat bukan Muslim.” Terang Mas Rahman kepada adik-adiknya, sekaligus membenarkan apa yang disampaikan oleh Pras & Rachman.

“Sedangkan pendapat Huda juga benar, seperti yang disampaikan oleh Imam Ahmad, bahwa nama Islam tidak akan hilang jika tidak melaksanakan kewajiban ataupun pelanggaran terhadap yang Allah larang, hingga vonis kafir dan munafik yang diterima oleh seorang Muslim. Nama Islam akan hilang jika ‘mengundang’ hal-hal yang membatalkan Islam secara keseluruhan. Maksud yang disampaikan Imam Ahmad adalah jika kita sedang ‘khilaf’ terhadap suatu kewajiban, maka itu tidak menghilangkan status kita sebagai seorang Muslim, selama kita tidak membatalkan keyakinan (akidah) kita, misal dengan hal-hal yang berbau syirik atau menyekutukan Allah.” Lanjut Mas Rahman.

“Hal ini didasarkan atas ucapan Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori, Imam Muslim, dan perawi hadits lainnya yang berbunyi, ‘Pezina tidak berzina ketika ia sedang dalam keadaan Mukmin.’ Maksudnya kalo ada diantara umat Nabi yang berzina, dia masih tetap dianggap sebagai umatnya, tapi waktu dia lagi berzina dia tidak dianggap sebagai umatnya, kira-kira begitu penjelasan singkatnya.” Tambah Mas Rahman menjelaskan kepada adik-adiknya.

“Mas, kalo khilafnya sering gimana?” Potong Harianto dengan sigap.

“Maksudnya?” Tanya Mas Rahman dengan nada yang heran.

“Aku sering bilang ke temenku kalo naro HP jangan asal aja, dia sering kehilangan HP, tapi tiap aku bilangin, dia jawabnya khilaf Mas, masa khilaf bisa sampe 3 ato 4 kali gitu coba? Yang terakhir HP Nokia Terbaru yang touchscreen gitu, Mas! Eh, sekarang dia udah ganti lagi sama HP Slankers.” Lanjut Harianto atas keheranan Mas Rahman.

“Hmm…Koq khilaf bisa sering ya? Setauku khilaf itu kan tidak disengaja dan tanpa perencanaan. Kalo sering berarti ada unsur kesengajaan ato mungkin direncanakan juga. Itu mah hobby kali ya? Mungkin temenmu itu hobby nya ngilangin HP, Har. Hahaha…..” Jawab Mas Rahman sambil mencoba mencairkan kembali suasana yang diringi oleh tawa kecil adik-adiknya.

“Jadi apa yang aku bilang tadi bener kan, Mas?” Rachman mencoba mengarahkan diskusi agar tetap fokus.

“Insya Allah..” Jawab Mas Rahman dengan singkat.

“Tuh kan, apa aku bilang, pendapatku sama Rachman bener tho?!” Tegas Pras, kepada teman-temannya.

“Iye, tapi ente jangan sembarangan ngafirin orang lain gitu dong, emangnye ente hakim apa?” Tandas Huda yang sedikit terpancing emosinya atas provokasi Pras.

“Tau tuh Mas, si Pras main hakim sendiri, kayak yang udah paling bener aja.” Tambah Ibrahim yang membuat suasana semakin ‘memanas’ karena perbedaan pendapat yang terjadi.

“Oh iya, Mas! Aku jadi mau minta pendapatnya Mas Rahman. Aku pernah ngikut kajian, disitu ustadznya bagus Mas, kalo ada yang nanya dia jawabnya fasih pake bahasa Arab, dalil Al-Qur’an dan Haditsnya juga banyak & lancar, ditambah pendapat beberapa ulama dari timur tengah, Mas.” Wahyu langsung memotong ketegangan antara Ibrahim dan Pras dengan pernyataan yang bagus.

“Wah, bagus dong!?” Mas Rahman langsung menanggapinya dengan singkat.

“Iya Mas, tapi…..” Wahyu menghentikan ucapannya karena bingung untuk menyampaikannya kepada forum.

“Tapi kenapa?” Mas Rahman bertanya keheranan sambil mengerutkan dahi.

“Tapi, waktu ada peserta lain yang memberikan pendapat yang berbeda sama ustadznya, langsung ditolak Mas, malah beberapa jama’ahnya langsung memberikan sikap yang kurang menyenangkan. Padahal waktu itu dia (peserta) juga pake dalil dan argumen yang aku pikir bagus Mas. Kalo gak salah dia nanya tentang hukum pemerintahan hasil pemilihan umum (demokrasi) yang kayak di Indonesia gitu mas.” Wahyu memulai pengalaman yang dialaminya dengan tenang.

“Terus kata ustadznya gimana?” Mas Rahman penasaran dengan pengalaman yang dialami oleh Wahyu.

“Jawaban ustadznya bagus Mas, aku lupa dia ngutip dalil apa aja, soalnya banyak banget, pake bahasa Arab lagi! Lha, wong pake bahasa Indonesia aja aku masih sulit ngapalin dalil, apalagi kalo pake bahasa Arab, banyak lagi. Peserta yang lain manggut-manggut sambil terpesona waktu ustadznya jelasin. Aku juga nerima apa yang disampaikan ustadznya Mas. Intinya ustadznya gak sepakat dengan sistem pemerintahan ataupun yang dihasilkan dari demokrasi Mas. Katanya demokrasi itu produk (hasil pemikiran) yahudi, yahudi itu kafir, jadi kita gak boleh nerima apapun yang dihasilkan sama orang-orang kafir (yahudi).” Wahyu melanjutkan kisahnya secara sistematis.

“Aku agak heran juga sih mas, kalo gitu kenapa waktu pengajian mereka pake laptop, lcd, motor, dan berbagai macam perlengkapan yang dibuat sama orang kafir? Terus ustadznya juga menambahkan, kalo umat Islam itu kan harus tunduk pada hukum Islam yang dibuat sama Allah, tapi kalo demokrasi itu yang buat hukumnya kan manusia, jadi gak sah. Tapi, aku jadi makin bingung mas, kenapa juga mereka tinggal di Indonesia dan mereka tetep ngikut hukum-hukum yang dibuat sama manusia melalui demokrasi itu? Ujung-ujungnya yang gak ngenakin itu ustadznya bilang kalo mereka yang terlibat langsung dengan demokrasi itu termasuk golongan yang kafir, karena mereka juga ngikutin sistem orang kafir.” Jelas Wahyu kepada forum yang berubah menjadi serius mendengarkan kisahnya.

Mas Rahman yang paham apa yang dimaksud Wahyu menghela nafas panjang, kemudian mulai menjelaskan dengan bijak, “Pertama, masalah demokrasi dan pelakunya itu haram atau tidak, saya kurang tau pastinya seperti apa. Tapi saya pernah diskusi sama Akh Bakti, kalo gak salah dia senior kalian, yang sekarang jadi ketua KAMMI. Beliau (Bakti) bilang kalo aktifitas demokrasi yang dilakukan saat ini oleh beberapa ustadz ataupun kiai sebagai ijtihad agar Dakwah Islam tetap bisa berjalan. Coba bandingkan kondisi saat ini dengan kondisi waktu zaman Pak Harto dulu? Kita ngumpul-ngumpul kayak gini udah tinggal di berangus aja besoknya, karena dianggap membahayakan Negara. Padahal menuntut ilmu kan jadi kewajiban, apalagi sebagai seorang Muslim yang mempelajari Ilmu Islam.” Mas Rahman mencoba memulai dengan nada yang meyakinkan.

“Memang dulu (waktu orde baru) ada ormas-ormas Islam yang bisa berkembang, seperti Muhammadiyah dan Nahdhatul Ulama, tapi mereka hanya mampu untuk berkontribusi pada tataran sosial saja, kalaupun bisa ikut serta dalam pembuatan kebijakan publik yang berpihak kepada umat Muslim, hanya sedikit, tidak secara signifikan. Pada akhirnya paham sekulerisme tumbuh dan berkembang dengan pesat di Indonesia, bahwa urusan agama hanya cukup di masjid dan sebatas ritualitas saja, bukan untuk mengatur masalah ekonomi, sosial, budaya, dan berbagai macam aspek kehidupan lainnya. Terus kalo gitu buat apa Allah menyempurnakan agama ini kalo cuma untuk ritualitas semata dan menjadi aktifitas ‘pelengkap’ dari kehidupan kita secara keseluruhan?” Mas Rahman berusaha untuk memberikan gambaran agar adik-adiknya dapat memahami dasar ijtihad para ulama saat ini.

“Terlebih sudah banyak kasus yang membuat umat Islam di diskriminasikan. Misal siswi Muslimah yang mencoba untuk mempertahankan kehormatannya, justru ditolak mentah-mentah oleh sekolah negeri. Sangat menyakitkan mendengar realita yang terjadi, 90% pajak diberikan masyarakat Indonesia yang mayoritas Muslim justru digunakan untuk ‘mengusir’ siswa/i Muslim yang berusaha untuk mendapatkan pendidikan secara layak. Yang lebih menyakitkan lagi, dasar pengusirannya disebabkan karena mereka mempertahankan jilbabnya ketika aktifitas belajar mengajar sedang berlangsung!” Mas Rahman semakin bersemangat menjelaskan kisah yang pernah didengarnya dari Almarhum Ustadz Rahmat Abdullah salah seorang aktifis Dakwah ketika masa orde baru yang pada reformasi menjadi salah seorang pendiri Partai Dakwah.

“Kita dapat melihat kondisi ini seperti Rasul berdakwah pada zamannya. Dalam Siroh, Rasul ‘memanfaatkan’ hukum yang dibuat masyarakat untuk membuat dirinya tidak dibunuh. Ketika itu terdapat hukum pelindung, dimana ada seorang yang menjamin seseorang untuk terlindungi. Yang melindungi berhak untuk membunuh siapapun orang yang membunuh orang yang dilindunginya. Dalam kondisi tersebut, Rasul sebagai orang yang dilindungi oleh Abu Thalib, pamannya. Siapapun yang berani membunuh Rasulullah, maka orang tersebut pun harus siap dibunuh oleh Abu Thalib. Terlebih ketika itu bani (suku) Rasul termasuk golongan (suku) yang mulia, sehingga hukum yang berlaku di masyarakat pun menjadi semakin membuat Rasul lebih terjaga dalam melakukan aktifitas Dakwahnya.” Mas Rahman meneruskan penjelasannya, kali ini dia menggunakan dasar Siroh untuk mempermudah adik-adiknya dalam menerima dakwahnya. Konon, sebuah cerita (khususnya Siroh) diyakini oleh para aktifis dakwah sebagai metode yang terbaik, karena mudah dipahami dan divisualisasikan.

“Akhir dari perlindungan pamannya adalah ketika beliau meninggal dunia dan seluruh bani (suku) mengirim pemuda terbaiknya untuk bersama-sama membunuh Rasul agar jika Bani Hasyim (suku/keturunan Rasul) ingin membalas dendam atas kematian Rasul, maka mereka harus berhadapan dengan seluruh bani (suku) yang ada di Mekkah saat itu. Kisah inilah yang sering kita dengar dimana Ali, keponakan beliau, menggantikan beliau untuk tidur di hari penyerangan kafir Quraisy, dan akhirnya rencana pembunuhan itu pun batal, karena Rasul sudah mulai berhijrah bersama Abu Bakar.” Tambah Mas Rahman yang disimak secara penuh oleh adik-adiknya.

“Kemudian kita juga dapat mengambil hikmah dari hijrahnya kaum Muslimin ke Habasyah. Mengapa mereka harus hijrah ke Habasyah, tidak ke daerah yang lain? Padahal Habasyah merupakan daerah yang dipimpin oleh Raja dari kaum Nasrani. Nabi mengambil keputusan untuk hijrah kesana karena pemimpinnya (Raja Nasrani) memberikan ‘kebebasan’ dalam berkeyakinan kepada masyarakatnya. Sang Raja tidak mengharuskan masyarakatnya untuk memeluk agama Nasrani sebagaimana yang dianut oleh dirinya, selama masyarakatnya tidak membuat keributan dan merugikan Negara, maka hal itu dipersilahkan.” Lanjut Mas Rahman kepada adik-adiknya yang tetap fokus meskipun sudah semakin larut malam.

“Kedua kisah diatas, yaitu hukum pelindung dan tinggal di tempat dan hukum (aturan hidup) Raja Nasrani merupakan contoh bagaimana Rasul dapat ‘memanfaatkan’ hukum-hukum yang berasal dari masyarakat sebagai bagian dari strategi dakwahnya. Lalu apakah Rasul disalahkan karena menggunakan hukum yang dibuat oleh manusia, bahkan oleh kumpulan manusia kafir?! Hal ini sama seperti demokrasi bangsa Indonesia. Para ulama yang tetap bertahan menggunakan demokrasi sebagai sarana, mendasarkan aktifitasnya pada kisah Rasul tersebut. Mayoraitas mereka yang tetap menggunakan demokrasi sebagai ‘tameng’ dan strategi dakwahnya adalah para ulama yang merasakan asam garam dakwah di bawah kepemimpinan otoriter orde baru. Boro-boro untuk mengusulkan hadirnya bank Syariah ataupun film-film yang ‘terjaga’, lha wong sholat dan pengajian aja di beberapa tempat ada yang ngawasi, gimana mau khusyuk coba? Alalagi kalo protes ato sejenisnya?” Mas Rahman berkisah seolah-olah sebagai saksi sejarah yang mengalami pahit getir nya Dakwah Islam semasa orde baru. Wawasannya yang luas memang diperoleh langsung dari para ulama yang menjadi aktor dari gerakan dakwah di era orde baru.

“Terus kenapa mereka sering main vonis aja ya, Mas? Padahal penampilannya rapi, ibadahnya bagus, tapi kalo ketemu sama umat Islam lain yang beda pendapat sama mereka, langsung ‘dihajar’ gitu, aku jadi bingung, Mas..??” Tanya Wahyu yang heran dengan sikap Ustadz dan Jamaah pengajian yang pernah dihadirinya itu.

“Aku juga pernah ketemu sama mereka, malahan beberapa kali kita sharing masalah keummatan, tapi ya memang begitulah mereka. Senantiasa berusaha untuk focus pembinaan diri saja, tanpa harus membina masyarakat. Kalaupun mereka berusaha untuk membina masyarakat, yang sering terjadi itu ngecrash sama kondisi masyarakat. Akhirnya masyarakat malah antipati sama mereka. Itulah mengapa kita harus berdakwah kepada masyarakat baik itu yang di kampus ataupun yang diluar kampus secara hikmah, supaya Islam yang mulia dan terhormat ini dapat diterima dengan baik oleh masyarakat.” Terang mas Rahman kepada adik-adiknya.

“Coba deh dibuka Al-Qur’an surat Ali Imron ayat 110. Disitu Allah memberikan kita (umat Islam) gelar sebagai umat terbaik yang dikirim untuk umat manusia, bukan hanya untuk diri sendiri. Tapi ‘pengiriman’ kita pun terdapat misi yang harus dilaksanakan, mulai dari amar makruf, nahi mungkar, hingga mengajak umat manusia untuk beriman kepada Allah. Jadi kalo mau jadi umat terbaik versi nya Allah, ya harus berinteraksi dengan manusia lainnya dengan menjalankan misi-misi yang ada di ayat tersebut.” Jelas mas Rahman dengan mengutip dalil Al-Qur’an untuk membuat adik-adiknya lebih mengerti mereka harus terus berdakwah bagi kejayaan Islam.

“Kadang aku salut sama orang-orang kayak mereka, berpenampilan rapih dan ibadahnya rajin, tapi sering kasian juga sama mereka kalo lagi berinteraksi sama masyarakat. Seperti ilmu yang mereka miliki tidak dapat bermanfaat bagi masyarakat karena cara penyampaian yang tidak tepat, bahkan cenderung memaksakan pendapat mereka yang harus diterima dan jika ada yang tidak sependapat langsung dianggap kafir.” Mas Rahman menambahkan dengan nada agak rendah.

“Tapi Mas, bukannya kalo kita mau ngajak orang ato dakwah Islam itu, kita harus sempurna dulu, kan ada ayat yang menyatakan kalo kita mengatakan apa yang tidak kita kerjakan, Allah sangat membenci kita, kalo gak salah di Al-Qur’an surat Ash Shaff deh.” Tandas Pras yang merasa pernah menghafalnya ketika mengikuti Dauroh Marhalah I KAMMI.

“Iya, memang benar kita harus melaksanakan apa yang kita kerjakan. Tapi bukan berarti kita tidak berdakwah dalam kondisi ketidaksempurnaan ini. Coba liat aja, seorang Nabi Muhammad aja pernah salah koq. Inget gak kisah yang Allah ceritakan di Surat ‘Abasa waktu Nabi kedatangan seorang buta lalu Nabi memberikan muka yang masam? Atau ketika Nabi lupa mengucapkan ‘Insya Allah’? Itu semua bentuk kekhilafan Nabi yang juga sebagai seorang manusia. Tapi dengan kondisi yang seperti itu pun Nabi tetep dakwah kan? Tanpa ada keraguan sedikit pun. Masak kita yang ngaku umatnya Nabi dan berharap mendapatkan syafaatnya gak mau ngikutin dakwahnya nabi?” Jawab mas Rahman atas pertanyaan Pras.

“Kalo Nabi kan enak Mas, kalo khilaf langsung diingetin sama Allah, lha kita gimana?” Potong Ibrahim yang merasa dirinya masih belum mampu untuk berdakwah sebagaimana yang Nabi lakukan.

“Itu dia specialnya Nabi, kalo khilaf langsung dapet teguran dan peringatan dari Allah. Sebenarnya kita juga  sering Allah ingatkan, misal waktu lagi aktifitas, kita denger adzan, itu kan bentuk pengingat juga? Tapi coba liat berapa orang yang langsung sholat sama yang lanjutin aktifitasnya? Artinya memang saat ini kecenderungan manusia yang lebih tertarik pada hal-hal duniawi.” Mas Rahman berusaha untuk mengingatkan adik-adiknya untuk tetap menjaga sholat dalam kondisi apapun sebagaimana pesan Imam Hasan Al-Banna kepada para aktifis dakwah.

“Mas, aku mau minta masukan masalah yang tadi, kalo misal besok-besok aku ketemu sama orang-orang yang kayak mereka lagi baiknya gimana ya?” Tanya Wahyu yang berharap dapat memberikan pemahaman kepada para jamaah pengajian yang pernah diikutinya tersebut.

“Sebenarnya sederhana, kita cukup menjelaskan dan mendoakan mereka. Kita berikan penjelasan kepada mereka bahwa perbedaan adalah Rahmat dari Allah. Para Sahabat Rasul aja punya karakter yang berbeda-beda. Bahkan kebijkan mereka saat menjadi khalifah pun berbeda, karena kondisi masyarakat yang mereka hadapi berbeda juga. Seandainya mereka (jamaah pengajian tersebut) hidup pada zaman Umar dengan kebijakan yang berbeda dengan Abu Bakar karena kondisi masyarakat yang berbeda pula, apakah mereka berani mengatakan bahwa Abu Bakar atau bahkan Rasulullah itu orang kafir? Pendek banget pemikirannya.”

“Kita juga bisa lihat sikap para Nabi dan Rasul yang berbeda-beda dalam menghadapi umat mereka. Ada Nabi yang meminta kepada Allah agar umatnya diberikan ampunan karena tidak mau mengikuti perintahNya, ada pula Nabi yang memohon kepada Allah agar umatnya diberikan adzab karena tetap melakukan kemaksiatan. Kalo mereka masih keukeh juga, berarti kita tinggal mendoakan saja, supaya mereka dapat berusaha lebih baik dan dimudahkan oleh Allah dalam memahami ajaran-Nya.” Jelas mas Rahman kepada adik-adiknya yang sudah mulai terlihat tidak fokus lagi.

“Kadang kalo kita ingetin suka marah Mas, apalagi mereka itu terlihat lebih pinter, ustadznya aja kalo lagi ada kajian mesti ‘impor’, kayak beras sama gula aja, pake bawa-bawa dari madinah ato yang lain-lainnya, kalo gitu gimana, Mas?” Potong Harianto kepada mas Rahman yang berusaha untuk memberikan pengalamannya dalam menghadapi orang-orang yang dimaksud oleh adik-adiknya itu.

“Hmm….mereka memang terlihat lebih pintar, tapi menurutku mereka justru golongan yang kurang pengetahuannya. Kasusnya kan sama kayak waktu si Pras langsung main hakim sendiri. Bilang kalo temennya si Bangun itu kafir. Pendapat dan dalilnya Pras benar, tapi kan dia Cuma tau satu pendapat dan dalil aja. Sedangkan ada pendapat lain yang sama kuatnya. Artinya mereka Cuma punya satu Ilmu dan satu pengetahuan (pendapat) dari sahabat, sedangkan masih banyak pengetahuan (pendapat) Sahabat Rasul yang lain yang belum mereka ketahui. Kalo gitu dimana letak kecerdasannya?”

“Ada anak SD yang bisa ngerjain soal tambah dan kurang, mereka bilang mereka sudah termasuk orang yang cerdas. Memang benar. Tapi cerdas untuk golongannya (anak SD) saja. Bukan cerdas untuk anak SMP ato SMA yang udah belajar Himpunan ato Trigonometri. Karena kecerdasan dan kedewasaan seseorang itu tidak ditentukan dari pakaian ataupun usianya. Kecerdasan Imam Syafii sudah diakui ketika belum akil baligh. Sedangkan kedewasaan Rasulullah dalam menyelesaikan masalah peletakan hajar aswad terjadi sebelum beliau diangkat menjadi Rasul. Artinya kalo orang-orang seperti mereka mengaku yang paling cerdas atau paling ilmiah, mungkin mereka paling cerdas diantara (golongan) mereka saja. Tidak cerdas dalam konteks umat Islam keseluruhan hingga cerdas dalam konteks umat manusia seluruhnya.” Tambah mas Rahman yang mencoba menyederhanakan masalah yang sedang dialami oleh adik-adiknya ketika mereka sedang berdakwah di kampus.

“Oh…jadi gitu ya Mas, Insya Allah deh kalo besok aku ketemu sama orang-orang yang kayak gitu lagi aku cobe jelasin, kalo masih susah juga ya berarti aku cukup doain aja.” Wahyu yang memperhatikan daritadi berusaha untuk menyimpulkan apa yang disapaikan oleh mas Rahman.

“Mas, aku usul gimana kalo ngumpul-ngumpul kayak gini kita buat rutin aja? Lumayan buat nambah ilmu, daripada Cuma nongkrong-nongkrong gak jelas di luar sana.” Usul Rachman kepada mas Rahman sekaligus menawarkan ke teman-teman yang lain.

“Aku sih oke-oke aja, asal jadwalnya bisa pas dan gak ganggu aktifitas yang lain. Kalo yang lain gimana?” Tanya mas Rahman kepada adik-adiknya yang lain.

“Sip Mas…” Jawab mereka serentak.

“Kalo gitu aku butuh PJ satu orang untuk koordinir jadwalnya ya, ada yang mau bantu?” Mas Rahman menawarkan amanah koordinator pengajian tersebut kepada mereka.

“Aku usul Tyo aja, daritadi dia diem terus soalnya, siapa tau kalo jadi koordinator nanti dia bisa lebih aktif. Gimana yang lain setuju kan?” Wahyu mengusulkan teman sekelasnya yang selalu bersikap tenang. Sedikit berbicara namun banyak bertindak, itulah karakter Hanindityo yang sejak awal kuliah tetap dipertahankannya hingga sekarang.

“Gimana Tyo, kamu bersedia?” Tawar mas Rahman kepada Tyo yang tetap tertunduk malu.

“Insya Allah, Mas…” Jawab Tyo singkat.

“Oke, kalo gitu pekan depan nanti aku hubungi Tyo ya, untuk jadwal dan tempatnya. Oya, kalo bisa bawa Al-Qur’an juga, biar kita bisa sama-sama belajar baca Al-Qur’an.” Tegas Mas Rahman.

“Oke, Mas…” Jawab mereka serentak.

 

.shandy.


Responses

  1. good note akhi. luar biasa. cuma coba lebih diringkas, atao dijadikan dua/tiga bagian. kalo kepanjangen mayoritas orang cenderung malas membaca. lanjutkan. Salam ukhuwah. wahyu setiawan (saudaramu yang mulai rindu padamu)

    • Jazakalloh Khoir kang Mas Wahyu, mohon bimbingan & doanya..Ramadhan kita Silaturrahmi yuk..🙂

  2. Artikel yang bagus (walaupun agak ‘capek’ pas ngebacanya)..

    Hampir semua tokoh di sini saya tahu🙂

    Obrolan ini riil terjadi mas?

    • Ternyata nulis cerpen itu lebih rumit dan bertele-tele yah, tapi asyik pas dibaca, kalo capek ya maap ajah…hehe


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: