Oleh: Shandy Dwi Fernandi | 22 Juli 2011

Inilah Bukti Cintaku Padamu…!

” Saudaraku, janganlah engkau berjalan didepanku karena mungkin aku tak akan sanggup mengikutimu. Dan jangan pula biarkan aku berjalan didepanmu karena mungkin aku tak akan sanggup memimpinmu. Tetapi berjalanlah disampingku agar kita berada dibarisan yang sama, berbagi duka dan tawa bersama, dalam menjalankan tugas mulia yang telah diberikan oleh-Nya “

Perang Badar merupakan perang yang sangat heroik dan menentukan, dimana umat Islam yang waktu itu berjumlah sangat kecil melawan orang-orang kafir Quraisy dengan jumlah yang tidak seimbang. Seusai Perang Badar, petugas logistik mengamati pejuang-pejuang Islam yang terluka sambil diobati dan diberi makan atau minum. Saat sedang melayani orang-orang yang memerlukan bantuannya ini, petugas mendengar ada suara orang yang meminta air karena rasa haus yang mencekik. Petugas tersebut mendatanginya. Namun, ketika akan dituangkan pada mulut orang itu, terdengar pula suara orang yang juga membutuhkan air. Lalu orang pertama yang membutuhkan air itu berujar pada petugas logistik, “ Berikan air itu padanya, dia lebih membutuhkannya ketimbang diriku! ” Maka petugas itu segera menemui orang kedua. Akan tetapi, ketika akan diminumkan air, orang kedua ini mendengar ada orang lain yang juga membutuhkannya. Orang kedua pun mengatakan, “ Berikan air itu padanya, dia lebih butuh daripada saya! ” Petugas itu pun segera mencari-cari sumber suara tadi. Rupanya orang ketiga yang membutuhkan air ketika ia jumpai telah meninggal. Secepat kilat petugas itu mendatangi orang kedua tadi. Akan tetapi, orang kedua pun telah meninggal dunia. Ia pun berlari menjumpai orang pertama. Begitu pun orang pertama, ia telah meninggal dunia.

Itulah kisah manusia yang diabadikan sepanjang sejarah. Mereka ditautkan oleh perasaan kolektif; perasaan bahwa saudaranya adalah dirinya sendiri. Merasa sakit apabila saudaranya sakit dan bahagia bila saudaranya bahagia. Saudaranya adalah cermin sejati bagi dirinya. Perasaan kolektif ini bagaikan saraf yang memadukan aneka ragam organ dalam tubuh. Dengan itu, setiap organ mempunyai investasi pada satu gerakan organ lainnya. Setiap individu melakukan itsar (mendahulukan saudaranya) dan berusaha untuk mendahulukan kemaslahatan umum dan kedamaian masyarakat.

Umar bin Khathab r.a. menangis terisak-isak tatkala mengetahui rakyatnya dirudung kelaparan. Umar mengangkat sendiri bahan pangan untuk rakyatnya yang sedang menderita. Khalifah Sulaiman Al-Manshur tidak bisa berdiam diri ketika mendengar ada seorang muslimah teraniaya di Byzantium dan khalifah mengajak rakyat untuk membebaskan muslimah tersebut. Itulah perasaan kolektif. Ia menjadi gelombang besar yang dapat menggerakkan sebuah kekuatan umat. Satu sama lain saling mencintai, sebagaimana Sabda Rasulullah Saw.,

“ Tidak beriman salah seorang di antara kamu apabila tidak mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri ” (HR. Bukhari dan Muslim)

Abdullah Ibnul Mubarak rahimahullah menceritakan kisah tentang tukang sol sepatu yang menunda pergi hajinya karena uang yang dipersiapkan untuk berangkat ke Baitullah Al-Haram diberikan pada tetangganya yang kelaparan. Ia pun tidak jadi naik haji. Akan tetapi, teman-temannya yang berangkat menunaikan ibadah haji melihat tukang sol sepatu itu berada di tanah suci. Dalam mimpi Ibnul Mubarak rahimahullah, tukang sol sepatu itu termasuk orang yang diterima ibadah hajinya oleh Allah Swt.

Hikmah yang hendak diambil dari kisah tersebut bukan persoalan maqbulnya ibadah haji yang dilakukannya. Akan tetapi, sikap arif tukang sol sepatu tersebut. Sikapnya yang penuh perhatian pada nasib tetangganya, nasib saudaranya sesama muslim. Ia rela menyerahkan harta yang ia kumpulkan dari jerih payahnya berbulan-bulan kepada saudaranya sesama muslim.

Dalam sebuah peristiwa yang dialami oleh seorang sahabat Rasulullah Saw. yang menjamu tamunya dengan sebuah hidangan yang lantaran porsi hidangan yang tersedia hanya cukup untuk satu orang, agar menyenangkan hati tamunya, sahabat itu berpura-pura sedang menyantap makanan tersebut bersama-sama dengan lahap. Dia matikan lampu rumah sehingga makanan yang disajikan tidak tampak pada sang tamu. Hal itu dilakukan agar tamunya berselera menyantap hiadangannya, dan menghilangkan rasa sungkan tamunya untuk menyantap makanan tersebut. Sikap inilah yang mendapatkan senyuman malaikat dan membuat senang hati Rasulullah Saw.

Dalam proses hijrah Rasulullah Saw. dari Mekah ke Madinah, diantara orang-orang yang dipersaudarakan Rasulullah Saw. adalah Abdurrrahman bin Auf r.a. dengan Saad bin Rabi’ r.a. Dengan hati yang tulus Saad bin Rabi’ mengatakan, “ Aku memiliki beberapa perniagaan, silahkan ambil yang kau senangi. Aku juga mempunyai beberapa istri, silahkan lihat mana yang menarik hatimu. Akan aku ceraikan dia dan nikahilah setelah selesai masa iddahnya. ” Abdurrahman bin Auf r.a. menjawab, “ Semoga Allah Swt. senantiasa memberkahi dirimu dan keluargamu, terima kasih atas penawaranmu. Akan tetapi, lebih baik bagiku bila engkau mau menunjukkan kepadaku di mana letak pasar itu. ”

Begitulah yang mereka lakukan. Dengan dilandasi perasaan Ikhlas semata untuk mengharap Ridha Allah Swt., dengan senang hati mereka lebih mengutamakan saudaranya daripada diri dan keluarganya. Mereka memang membutuhkan, tapi perasaan mendahulukan kepentingan saudara yang lain lebih dominan. Mereka dapat merasakan kesusahan dan kebahagiaan saudaranya. Mereka tahu betul apa yang mesti dilakukan untuk orang lain. Mereka merasa bersedih apabila tidak mampu berbuat banyak untuk orang lain (saudaranya), sedangkan bagi yang dibantu pun memiliki rasa pengertian.

Lalu, bagaimana dengan sikap kita kepada saudara-saudara seiman kita? Saudara yang Rasulullah Saw. jelaskan bahwa

“ Mukmin dengan mukmin yang lainnya seperti bangunan, sebagian dengan sebagian lainnya saling menguatkan…” (HR. Bukhari)

Mungkin dalam kehidupan sehari-hari, sikap kita kepada mereka masih jauh dari yang Rasulullah Saw. harapkan. Padatnya aktifitas kita sering kali membuat kita melupakan hak mereka, seperti hak sekecil mengucapkan salam kepadanya ataupun menanyakan kabarnya, hingga kepada hak untuk memberikan apa saja yang kita miliki (cintai) untuk diberikan kepadanya, untuk membantu kehidupannya atau bahkan membuat dirinya semakin dekat kepada Allah Swt, padahal secara fitrah setiap orang pasti akan memiliki kesibukannya masing-masing. Akan tetapi, kesibukan antara yang satu dengan yang lain berbeda, ada yang sibuk untuk memenuhi kebutuhan/ambisi/obsesi dirinya saja ada pula yang mereka sibuk dengan aktifitas yang dapat memberikan manfaat kepada saudaranya (orang lain). Memang terlihat tidak adil, tapi itulah sikap manusia yang bergerak sesuai dengan ego nya dan akan berusaha untuk memperjuangkan ego nya meskipun bertolak belakang dengan Syariat Islam.

Saudaraku,,,
Kala hati yang terkotori…
Kala lisan yang tak terjaga…
Kala tingkah laku yang tak menyenangkan…
Kala canda yang berlebihan…
Kala khilaf yang diperbuat…
Kala janji yang terlupakan…
Dan kala terjadi perbedaan pendapat dan keinginan…
Ada yang harus kita luruskan !
Ada yang harus kita bersihkan !

 

Wallahu’alam Bishawab.

.shandy.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: