Oleh: Shandy Dwi Fernandi | 19 Juli 2011

Dakwah Kampus sebagai Director of Change

Mahasiswa atau pemuda sejak dahulu telah terbukti menjadi agen perubahan di setiap masanya. Mahasiswa atau pemuda adalah aset terbesar suatu bangsa karena dengan keberadaan dan kontribusinya, sebuah bangsa memiliki harapan di masa yang akan datang. Mahasiswa atau pemuda memilki idealisme yang kuat dan kental. Dengan prinsip (idealisme) yang dimiliki oleh mahasiswa atau pemuda, maka nilai-nilai luhur suatu bangsa bisa terjaga, dimana mahasiswa atau pemuda melakukan sebuah perjuangan atau pergerakan murni atas dasar pemahaman yang dimiliki.

Dunia kampus yang menjadi tempat pengembangan diri mahasiswa dan masyarakat luas menjadi pilar utama bagi perkembangan suatu bangsa. Disinilah berbagai nilai-nilai kehidupan hadir, berbagai pemikiran berkembang, dan berbagai sikap masyarakat intelektual bertemu. Satu hal yang pasti menjadi harapan bagi suatu bangsa kepada dunia kampus adalah akan hadirnya berbagai ide perbaikan yang kelak akan membawa perubahan bangsa tersebut ke arah yang lebih baik. Oleh karena itu, peran mahasiswa dalam dinamika kehidupan kampus sangat berarti bagi perubahan kehidupan masyarakat pada umumnya yang sudah jenuh akan berbagai permasalahan hidup yang hadir di tengah-tengah kehidupan mereka.

Berbicara masalah kampus, tentu kita sudah tidak asing lagi dengan kehadiran dan perkembangan dakwah kampus, yang sudah pasti dimotori oleh Lembaga Dakwah Kampus (LDK). Di Indonesia, dakwah kampus telah hadir sejak tahun 1980-an hingga sekarang. Kondisi obyektif kampus yang berbeda-beda saat itu, memaksa masing-masing LDK berkembang dengan pola sendiri-sendiri, sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapinya. Keadaan yang seperti ini berakibat pada melemahnya kekuatan gerak dakwah secara global. Oleh karena itu diperlukan adanya suatu jalinan koordinasi yang baik di antara lembaga dakwah kampus yang ada demi terciptanya kekuatan gerak dakwah yang terpadu, kokoh, laksana satu bangunan yang saling menguatkan, sehingga pada tanggal 14-15 Ramadhan 1406 H atau 24-25 Mei 1986 M terjadi pertemuan atau Sarasehan LDK yang diadakan di Universitas Gajah Mada dan pertemuan tersebut terus berlanjut hingga pertemuan ke XIV yang diadakan pada 28 Juli – 1 Agustus 2007 di Universitas Lampung atau yang sering kita kenal dengan istilah Forum Silaturahim Lembaga Dakwah Kampus Nasional (FSLDKN) saat ini.

Perkembangan dakwah kampus sudah semakin cepat seiring dengan dinamika kehidupan masyarakat pada umumnya ataupun kehidupan kampus pada khususnya. Hal ini harus diikuti oleh perubahan pola gerakan dakwah yang dibangun LDK. LDK yang berfungsi sebagai garda terdepan dalam syiar Islam di kampus, memiliki peran utama dalam hal pembinaan mahasiswa muslim, penyebaran nilai-nilai Islam di kampus, serta memberikan pelayanan bagi masyarakat kampus. Kampus yang dijadikan sebagai miniatur peradaban Islam haruslah dibangun atas nilai-nilai kehidupan yang berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Oleh karena itu, setiap LDK harus mampu untuk menjalankan ketiga peran utama tersebut agar dapat menjadi director of change bagi kehidupan masyarakat kampus maupun masyarakat umum dalam skala lokal, nasional, atau bahkan global.

Pembinaan mahasiswa muslim atau proses kaderisasi menjadi point utama dalam membangun kehidupan kampus yang Islami. Hal inilah yang Rasulullah Saw. lakukan ketika beliau diangkat menjadi seorang Rasul dan diperintahkan oleh Allah Swt. untuk menyebarkan nilai-nilai Islam kepada masyarakat saat itu. Rasulullah Saw. tidak langsung keluar di mimbar yang besar ataupun lapangan yang luas dalam upaya menyebarkan dien ini, tetapi Rasulullah Saw. menyebarkannya kepada orang-orang terdekatnya dan membina mereka secara intensif terlebih dahulu, atau yang lebih kita kenal dengan adanya Darul Arqom. Begitu pula dengan Umar bin Khattab yang sangat mengkhawatirkan kondisi ruhiyah pasukannya ketika akan berperang ketimbang kekuatan musuh yang sebesar apapun. Atau Sholahuddin Al Ayyubi yang ketika memetakan pasukan yang akan ikut beliau berperang dan menjadi garda terdepan adalah para prajurit yang ketika di malam hari tenda-tendanya tidak sepi dari aktivitas peningkatan kualitas keimanan kepada Allah Swt., baik itu berupa shalat malam, membaca Al-Qur’an, ataupun berdzikir kepada Allah Swt.

Beberapa kisah di atas dapat kita ambil hikmahnya bahwa proses pembinaan diri secara fardiyah maupun jama’i lebih di utamakan dari kegiatan apapun. Hal ini dikarenakan dengan upaya seperti itulah yang kelak akan mendatangkan pertolongan Allah Swt. dengan menanamkan kepribadian Islam (Syakhsiyah Islamiyah) dalam diri para aktifis dakwah. Proses ini adalah proses pembinaan para pemimpin, yaitu para mahasiswa yang ke depannya akan menjadi penggerak dakwah. Yang perlu dicermati adalah bahwa membina mahasiswa berbeda dengan membina masyarakat pada umumnya. Membina mahasiswa tidak cukup dengan hanya ta’lim, tabligh, training, dan seminar. Membina mahasiswa haruslah melalui medan amal yang nyata, menghadapkannya pada realitas. Pembinaannya bersifat intensif, memperhatikan seluruh aspek kehidupannya, untuk memenuhi standar-standar kepribadian seorang pemimpin. Karena itulah waktunya bisa panjang. Inilah yang disebut kaderisasi dalam dakwah kampus yang bertujuan agar potensi intelektual, spiritual, maupun emosional mahasiswa yang akan menjadi kader dakwah kampus / Aktifis Dakwah Kampus (ADK) dapat meningkat secara signifikan.

Proses pembinaan yang intensif dan efektif menjadi modal utama dalam rangka internalisasi nilai-nilai Islam dalam diri ADK. Dengan hal ini kelak akan terbentuk kader-kader yang siap menanggung beban dakwah, sehingga bersamaan dengan hal itu pula mereka telah siap untuk terjun ke masyarakat kampus maupun masyarakat umum dalam rangka penyebaran nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Islam yang telah mengajarkan kepada seluruh umatnya untuk menjadi umat yang terbaik sudah tentu akan bercermin pada kehidupan manusia terbaik pula. Dia adalah Rasulullah Muhammad Saw. yang menjadi teladan bagi kita semua. Dalam sejarah kehidupan beliau, kita dapat menyaksikan bahwa kehidupan Rasulullah Saw. ketika itu sangatlah mulia. Dengan kehidupan yang mulia itulah beliau dapat menjadi teladan bagi siapapun tanpa terkecuali, sehingga beliau beserta para sahabat pada saat itu mampu menguasai hingga 2/3 dunia dengan izin Allah Swt. tentunya.

Dalam proses kaderisasi diharapkan setiap ADK dapat memahami bahwa mereka akan menjadi generasi terbaik yang mengikuti jejak Rasulullah Saw. dan para sahabatnya. Dengan pemahaman seperti inilah setiap ADK akan berusaha untuk mencapai kehidupan yang mulia dan menjadi teladan bagi masyarakat kampus maupun masyarakat umum. Pembinaan yang telah dirasakan oleh para ADK harus mereka ‘tularkan’ kepada masyarakat. Kekuatan ruhiyah, fikriyah, dan jasadiyah yang terbentuk dalam diri ADK dapat membantu mereka dalam membina masyarakat dalam skala yang lebih luas. Ada dua hal penting yang dapat menjadi perhatian bagi para ADK ketika mereka berusaha untuk membina masyarakat. Pertama, mereka harus memberikan banyak pelayanan yang terbaik bagi masyarakat agar kehadiran ADK dan LDK dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat dan yang kedua, mereka harus mampu menjadi tokoh di tengah-tengah masyarakat atas dasar keteladanan yang mereka miliki. Kedua hal inilah yang akan membantu ADK dalam membangun pengaruh di kehidupan masyarakat.

Pengaruh yang kuat akan membentuk basis massa yang kuat. Kondisi seperti ini sempat dirasakan oleh Rasulullah Saw. dan para sahabat ketika mereka mampu memberikan pengaruh yang kuat dalam kehidupan masyarakat pada saat itu. Basis massa yang dibentuk oleh mereka ketika itu dikarenakan mereka dapat memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat dan mereka mampu menjadi tokoh dalam kehidupan sehari-hari, atau bahkan ada yang sudah menjadi tokoh sebelum akhirnya mereka mendapat hidayah dari Allah Swt. yang kemudian dapat membantu mereka dalam menyebarkan ajaran yang mulia ini. Sebut saja Khadijah dan Abu Bakar yang telah menjadi tokoh sebelum mereka memeluk Islam atau Umar yang ketika menjadi khalifah bersedia untuk melayani umatnya siang dan malam tanpa henti.

Dalam konteks kehidupan saat ini, kita melihat banyak sekali orang yang dapat melayani orang lain sebanyak mungkin ataupun mereka mampu menjadi tokoh masyarakat. Ada seorang ulama yang sering memberikan ceramah keagamaan, selebritis yang sering muncul di berbagai media, ataupun para pengusaha yang mampu memberikan pekerjaan kepada orang lain dan memberikan sedikit hartanya dalam bentuk CSR dari perusahaan yang dimiliki atau dipimpinnya. Dalam kehidupan kita, sebenarnya masih banyak lagi karakter orang yang mampu memberikan kedua aspek di atas (pelayanan dan ketokohan) sehingga mereka mampu membentuk basis massa yang solid.

Jika kita perhatikan seorang ulama yang sering memberikan ceramah keagamaan, maka dia mampu untuk memberikan manfaat kepada orang lain dengan isi ceramah yang disampaikannya sehingga orang lain akan merasa tentram hatinya dan tentu saja dia akan menjadi tokoh di masyarakat karena berbagai masalah kehidupan yang dirasakan oleh masyarakat dapat dia berikan solusinya. Begitu pula kehidupan selebriti yang muncul di berbagai media sudah tentu akan dikenal oleh masyarakat luas. Kontribusi mereka dalam dunia hiburan dianggap masyarakat sebagai suatu hal yang menarik untuk dinikmati, terlepas dari banyaknya hiburan yang mereka suguhkan ternyata kurang memberikan manfaat. Tetapi dengan aktifitas mereka yang seperti itu justru mendapat perhatian yang luas dari masyarakat, dan sisi inilah yang dapat kita kenal dengan ketokohan para selebritis.

Dari kedua contoh sederhana di atas (ulama dan selebritis), sesungguhnya yang mereka lakukan adalah hal yang luar biasa. Pelayanan yang mereka lakukan serta ketokohan mereka dalam kehidupan sehari-hari mampu mempengaruhi perilaku kita secara sadar ataupun tidak. Banyak masyarakat kita saat ini ingin mencoba untuk menjadi pribadi-pribadi seperti mereka. Sehingga hal itulah yang kemudian membuat mereka mampu membentuk basis massa yang cukup kuat. Seorang ulama biasanya mampu membentuk basis massa dengan kelompok-kelompok pengajian yang berjenjang seperti multi level marketing dan seorang selebritis membentuk basis massanya dengan membuat fans club bagi dirinya. Pembentukan basis massa seperti ini lebih banyak terjadi tanpa adanya suatu perencanaan atau lebih cenderung bersifat alamiah. Apa yang sebenarnya terjadi dari kedua fenomena seperti ini? Jawabannya sangat sederhana, yaitu mereka dapat mempengaruhi kita dengan segala aktifitasnya dan akhirnya menjadi trend setter dalam kehidupan ini sehingga membuat kita selalu memperhatikan mereka dan kita pun mencoba untuk meniru apapun yang mereka lakukan.

Trend Setter merupakan sikap seseorang yang dapat merubah kondisi (perilaku) atau trend dalam kehidupan masyarakat secara luas. Dalam kedua contoh sederhana di atas, sering terjadi ketika seorang selebriti menggunakan suatu model pakaian, maka model pakaian itu akan ‘diburu’ oleh masyarakat luas. Sebutlah ‘celana pinsil’ yang beberapa waktu lalu menjadi trend ketika band The Cangchuters naik daun ataupun sorban yang lebih dekat dengan kehidupan keIslaman pun meningkat permintaannya ketika band Nidji menjadi idola yang notabene band tersebut bukan band beraliran religi ataupun nasyid perjuangan. Atau kasus ‘koko gaul’ ala Uje (Ustadz Jefry Al-Bukhori) yang merebak se-Nusantara karena popularitasnya yang cukup kuat. Atau mungkin masih banyak lagi berbagai fenomena seperti ini yang terjadi di masyarakat kita, yang sudah tentu bukan hanya sekedar model pakaian tapi juga pola pikir dan sikap mereka, baik itu secara sadar atau bahkan kita lakukan, apakah hal tersebut bermanfaat atau tidak bagi kita.

Nah, bagaimana dengan kondisi dakwah kampus kita? Mampukah ADK ataupun LDK menjadi trend setter bagi kehidupan kampus? Fenomena seperti ini mungkin telah banyak yang menyadarinya, tetapi masih sedikit yang memperhatikannya atau bahkan menjadikannya suatu bahan diskusi bagi perkembangan dakwah kampus kita. Bagi kader dakwah, menjadi trend setter dianggap sulit karena sikap kita yang terkesan eksklusif ataupun kurang peka terhadap lingkungan membuat kita seolah-oleh berada dalam dunia yang berbeda dengan masyarakat yang lain. Kondisi para ADK yang berada dalam zona nyaman (comfort zone) membuat mereka sulit untuk bisa bersosial dengan non kader dakwah. Terlebih lagi jika masih banyak kader dakwah yang masih belum berani untuk menunjukkan jati diri keIslaman yang sesungguhnya dengan penyesuaian kondisi kekinian dan kedisinian sehingga kehadiran mereka bisa diterima oleh masyarakat.

Kisah Umar bin Khattab yang ketika hendak berhijrah secara terang-terangan menunjukkan bagaimana seharusnya kader dakwah bangga dan berani akan keIslamannya. Kita semua yakin bahwa Allah Swt. akan menolong umatNya yang memperjuangkan agamaNya. Namun keyakinan itu akan menjadi semu atau menguap selayaknya asap yang keluar dari api karena kita tidak berani menunjukkan keIslaman kita di masyarakat kampus. Oleh karena itu, dakwah kampus sebagai dakwah harokah ammah dzohiroh harus dipahami oleh semua ADK bahwa setiap aktifitas dakwah kampus harus diketahui oleh publik dan para aktifisnya pun harus dikenal oleh publik.

Dengan demikian, proses kaderisasi yang dilakukan LDK hendaknya tidak hanya memperhatikan aspek peningkatan kualitas Iman dan Taqwa (IMTAQ) saja, tetapi juga aspek Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) pun sebaiknya diperhatikan. Sehingga setiap ADK yang terbentuk dari proses kaderisasi tersebut akan memiliki kapasitas kepribadian Islam dan berani mengamalkan kepribadian Islam yang mereka miliki, bukan hanya di dalam komunitas sesama ADK saja, tetapi juga di seluruh kehidupan masyarkat kampus. Jika pengamalan nilai-nilai Islam yang dilakukan oleh ADK, maka citra keIslaman dalam diri ADK akan muncul dan tentunya akan diterima oleh masyarakat, karena Islam merupakan rahmatan lil ‘alamin. Dengan citra keIslaman yang baik yang diterima oleh masyarakat tentunya akan membuat citra LDK akan baik pula.

Kondisi ADK yang tangguh dan siap untuk menjadi pioneer dalam perubahan kehidupan kampus kelak akan mendorong kinerja LDK dengan efektif dan progresif. Banyaknya ADK yang berpartisipasi dalam LDK, maka akan membuat gerakan dakwah kampus lebih massif, sehingga proses penyebaran nilai-nilai Islam (Syiar Islam) di kampus akan semakin luas cakupannya. Namun, dalam proses Syiar Islam dalam kampus sangat berbeda dengan proses Syiar Islam di masyarakat. Keterbukaan kehidupan kampus menimbulkan sikap dan pemikiran yang sangat bervariasi dan berkarakter. Oleh karenanya, gerakan dakwah yang dimotori oleh LDK haruslah didasarkan pada analisis sosial kehidupan kampus tersebut. Hal ini diperlukan agar gerakan yang dibangun tidak hanya berdasarkan pemikiran para ADK saja (subyektif), tetapi dibangun pula atas dasar pemahaman yang terdapat dalam diri masyarakat kampus (obyektif).

Analisis sosial yang dilakukan oleh ADK secara obyektif membuat pemikiran mereka semakin terbuka dan berkembang. Terlebih jika ADK yang telah terbina dengan baik melalui proses kaderisasi, membuat mereka memiliki kekayaan pemikiran yang luas. Kekayaan pemikiran yang mereka miliki ditentukan oleh kekayaan dan orisinalitas referensi, serta kemampuan mengeksplorasi referensi dan memformulasikannya untuk memenuhi keterbutuhan masyarakat kampus. Bagi ADK, Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah referensi terbaik yang kita miliki, tetapi mereka pun dituntut agar berijtihad untuk menemukan “mutiara-mutiara”nya.

Kekuatan dan keluasan pikiran yang dimiliki oleh ADK haruslah diformulasikan agar menjadi sebuah struktur pemikiran yang kuat dan solid. Kesolidan terbentuk ketika mencakup semua bagian yang inheren di dalamnya dan pada waktu yang sama mempunyai daya tahan terhadap kritikan dari luar. Struktur pemikiran yang solid tersebut dapat mempengaruhi kejelasan pemikiran mereka (ADK), keyakinan mereka pada pemikiran tersebut, dan kemampuan mereka dalam menjelaskan pemikiran tersebut kepada orang lain (masyarakat kampus). Semakin jelas pemahaman mereka terhadap terhadap suatu pemikiran, semakin sempurna kemampuan mereka untuk menjelaskannya.

Setelah ADK memiliki struktur pemikiran yang solid, maka yang menjadi perhatian mereka selanjutnya adalah kemampuan dalam meyakinkan masyarakat kampus. Kemampuan ini sudah tidak membicarakan masalah benar atau salah pemikiran yang mereka bawa, tetapi bagaimana pemikiran ini dapat diterima oleh masyarakat kampus dan menjadikan pemikiran tersebut milik masyarakat kampus (publik) sepenuhnya. Pada bagian ini, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu penguasaan teoritis terhadap pemikiran yang akan dibawa, penguasaan tentang struktur pemikiran obyek dakwah dan varian-varian yang membentuknya, kejelian dalam menentukan entry point yang tepat untuk melakukan penetrasi terhadap pemikiran obyek dakwah, dan kemampuan menemukan format bahasa yang tepat dengan struktur kesadaran, bentuk logika, kecenderungan estetika kebahasaan, dan situasi psikologis, serta momentum yang mengkolerasi pikiran kita dengan suasana mereka. Inilah penjelasan dari sabda Rasulullah Saw., “Berbicaralah kepada orang lain sesuai dengan tingkat pemikiran mereka.”

Pergerakan yang dibangun oleh LDK dengan kapasitas internal (ADK) seperti tersebut di atas akan membuat perubahan yang signifikan terhadap kehidupan kampus. Perubahan pemikiran di kampus atas pergerakan yang dibangun oleh para ADK dalam kegiatan ataupun program LDK dapat mendorong perubahan perilaku masyarakat kampus. Hal ini disebabkan karena pikiran merupakan referensi yang diperlukan masyarakat untuk memberi arah, merasionalisasikan sikap dan tindakan, membantu menentukan pilihan, menjawab pertanyaan-pertanyaan, dan memberikan solusi. Sehingga dalam pergerakan yang dibangun oleh LDK haruslah dapat memenangkan wacana atau opini yang berkembang dalam kehidupan kampus. Sikap seperti inilah yang diperlukan karena upaya memenangkan wacana atau opini publik adalah seni tentang bagaimana mempengaruhi dan menyusun kerangka pemikiran masyarakat kampus. Atau, bagaimana membuat masyarakat kampus berpikir dengan cara yang kita inginkan, bagaimana membuat mereka mempresentasikan sesuatu dengan lensa yang kita kenakan kepada mereka. Pada akhirnya, perubahan pola pikir masyarakat kampus karena pemenangan wacana atau opini dalam kehidupan kampus dapat merubah pola pikir dan tindakan mereka dalam kehidupan sehari-hari mereka di kampus.

Akhirnya, peningkatan kualitas diri ADK yang menjadi motor bagi pergerakan LDK, serta upaya pemenangan wacana atau opini masyarakat kampus dapat menjadi dasar bagi perubahan kehidupan kampus yang Islami, yang tentunya berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Terlebih jika peran kampus yang menjadi dasar perkembangan suatu bangsa telah terinfiltrasi nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-harinya maka sudah menjadi keniscayaan bagi perubahan kehidupan bangsa tersebut menjadi lebih baik dengan rahmat yang dibawa oleh Islam. Oleh karena itu, penting bagi para ADK untuk berjuang dengan penuh keikhlasan agar Dakwah Kampus benar-benar menjadi pengarah perubahan kehidupan masyarakat secara global.

.shandydf.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: