Oleh: Shandy Dwi Fernandi | 15 Juli 2011

ILLEGAL WEDDING

Bismillah…

 

Harus mulai dari mana ya? Agak bingung juga, tapi kata pepatah sedikit demi sedikit lama-lama akan menjadi bukit. Coba di tulis dulu, satu demi satu huruf ini diketik, pasti akan menjadi kalimat, kalimat ini terus bertambah dan akan menjadi paragraph, lalu paragraph yang banyak akan menjadi sebuah karya tulis, dan yang pasti nanti akan ada tambahan masukan dari-Nya. Karena awal tulisan ini pun muncul dengan berbagai nikmat yang diberikan-Nya. Sangat layak jika kita bersyukur kepada Sang Pencipta. Kita yang hanya sebagai makhluk paling mulia, wajar jika dipilih oleh-Nya untuk menjadi wakil-Nya di dunia ini, untuk menjalankan segala aturan-aturannya.

Yah, namanya juga wakil, mesti kudu manut sama pemimpinnya. Ibarat Pak SBY bilang “A”, mesti Prof. Boediono juga bilang “A”, kalo waktu sholat imamnya takbir, mesti makmum juga ikut takbir, kalo Al-Qur’an bilang zina itu haram, mesti sunnah Rasul juga bilang gitu. Itu hukum alam yang berlaku. Agak heran juga kalo ada wakil yang ngelawan atasannya. Misal Prof. Boediono gak manut sama pak SBY, mesti besoknya dijauhin atau diasingkan atau mungkin dipecat. Sama seperti kita yang cuma makhluk, cuma jadi wakil, yang harus manut sama pemimpin kehidupan kita, yaitu Sang Khalik Yang Maha Adil. Kalo gak manut, ya entah mau jadi apa kita dihadapan-Nya, tinggal tunggu aja tanggal mainnya.

Waktu lagi kerja, penulis pernah ditanya oleh seorang ibu, “Mas, emang apa bedanya sih sistem di Bank Syariah (Islam) sama bank umum?”

“Bedanya banyak, Bu. Mulai dari yang Riba sama yang non Riba. Halal – Haram. Sampe masalah keuntungannya.” Jawab penulis singkat.

“Ah, sama aja kok mas. Malah kata temen saya kalo di Bank Syariah (Islam) itu lebih mahal.” Sanggah si Ibu.

“Kalo masalah lebih mahal atau murah, itu tergantung dari tiap Bank nya. Tapi yang pasti di Bank Syariah (Islam) itu lebih aman dan halal, soalnya ada akad yang jelas.” Tambah Penulis.

“Kalo Cuma akad mah gak ngaruh, Mas. Yang penting kan usaha saya lancar dan banyak untungnya.” Tanggap si Ibu.

“Iya, Bu. Masalah akad emang keliatan sederhana. Tapi coba kalo kasusnya gini. Ibu punya anak perempuan?” Tanya penulis kepada si Ibu.

“Punya, Mas. Kenapa? Koq pake bawa-bawa anak saya?” Si Ibu nanya balik ke penulis.

“Iya, Bu. Saya mau coba jelasin pentingnya akad dalam interaksi sehari-hari, khususnya masalah-masalah yang penting.” Tambah penulis.

“Misal, anak Ibu udah nikah, terus punya anak, Ibu seneng gak?” Tanya penulis lagi.

“Ya, seneng dong, Mas. Kan jadi punya cucu.” Jawab si Ibu singkat.

“Kalo misal anak Ibu belum nikah, tapi udah punya anak, Ibu seneng gak?” Penulis mencoba memberikan analogi sederhana bahwa akad itu penting dalam bermuamalah.

“Hmm…kalo belum nikah, tapi udah punya anak. Lha, koq bisa, Mas? Dari mana anaknya?” Jawab si Ibu dengan nada agak heran.

“Ya, bisa aja, Bu. Artinya anak Ibu hamil di luar nikah.” Tanggap penulis dengan singkat.

“Wah, kalo gitu ya jadi aib, Mas. Malu dong saya sama keluarga saya!” Jawab si Ibu dengan tegas.

“Nah, itu kan Ibu udah tau kalo akad juga penting. Yang pertama kalo anak Ibu punya anak waktu udah nikah, yang kedua anak Ibu punya anak waktu belom nikah. Proses bisa punya anak kan sama aja, Bu. Tapi kenapa Ibu seneng sama yang pertama daripada yang kedua?” Tambah penulis.

“Kan yang pertama udah nikah, Mas. Jadi saya seneng. Kalo yang kedua saya jadi malu, Mas.” Jawab si Ibu dengan singkat.

“Itu dia, Bu. Inti dari pernikahan kan di akad nya. Ya, semacem “serah-terima” gitu lah. Jadi lebih jelas status nya. Sama kayak Bank Syariah (Islam) itu akadnya harus jelas, supaya harta yang digunakan juga jelas, jadi sama-sama untung. Kalo di bank umum banyak yang gak jelas, kalo tiba-tiba ekonomi Indonesia hancur, mesti yang kena orang-orang kecil. Contohnya waktu krismon tahun 97.” Jelas penulis kepada si Ibu.

“Misal lagi, Bu. Kalo Ibu punya banyak cucu dari anak Ibu yang belum nikah, sama punya cucu yang belum banyak dari anak Ibu yang udah nikah, Ibu lebih seneng yang mana?” Tanya penulis ke si Ibu lagi.

“Ya jelas yang udah nikah dong, Mas. Walaupun masih belum banyak, yang penting kan anak itu halal, gak haram. Nanti malah bawa masalah sama malu-maluin, Mas.” Jawab si Ibu dengan Jelas.

“Nah, itu kan sama aja kayak Ibu punya usaha dari Bank Syariah (Islam) yang mungkin untungnya belum besar daripada di bank umum yang untungnya mungkin sudah besar. Jelas halalnya, berkahnya, dan yang paling bagus lagi kalo bisa untung yang besar. Ibarat Ibu lebih seneng kalo punya cucu yang banyak dari anak yang udah nikah. Jadi rame, banyak rejeki, dan kalo cucunya soleh ato solehah, pasti bisa bawa doa yang baik buat Ibu sekeluarga.” Tambah penulis kepada si Ibu.

Itu sedikit pengalaman penulis ketika berhadapan dengan masyarakat yang masih awam dengan sistem dan keuntungan berinteraksi dengan Lembaga Keuangan Syariah (Islam), baik yang mikro maupun makro. pembahasan kali ini pun secara sederhana tidak berbeda jauh dengan kedua hal diatas, yaitu ekonomi dan pernikahan.

Bagi seorang pengusaha ekspor dan impor, mereka pasti paham bahwa masuknya barang dagangan ke Indonesia tanpa melalui bea-cukai, maka itu dikatakan sebagai barang murah. Karena harganya masih orisinil. Yang sering dikatakan oleh masyarakat sebagai barang “black market” atau hasil dari pasar gelap. Masyarakat sudah paham bahwa barang yang masuk tanpa bea-cukai, dikatakan sebagai barang gelap karena tidak mengikuti hukum yang berlaku di Indonesia.

Dalam Ekonomi Islam, khususnya Lembaga Keuangan Syariah, semuanya secara umum sudah di jelaskan dalam Al-Qur’an dan Hadits. Namun, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, kita pun harus tunduk pada hukum positif yang berlaku.

Di Indonesia, permasalahan hukum-hukum Islam yang berkaitan dengan praktik Lembaga Keuangan Syariah secara umum ditangani oleh MUI, tapi secara khusus memang dibina oleh Dewan Pengawas Syariah di tiap Lembaga Keuangan Syariah yang bersangkutan. Dari sudut pandang hukum positif, sudah ada beberapa produk hukum yang dapat menjadi acuan untuk menjalankan aktifitas Keuangan Syariah, misalnya UU No. 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah, UU No. 19 Tahun 2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN), UU No. 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat, Keputusan Menteri Koperasi dan UKM No. 91 Tahun 2004 tentang Petunjuk Pelaksanaan Kegiatan Usaha Koperasi Jasa Keuangan Syariah (KJKS), dan berbagai macam produk hukum lainnya.

Semua produk hukum Islam ataupun hukum positif yang ada di Indonesia harus menjadi acuan dalam beraktifitas, misalnya untuk membedakan mana transaksi untuk jual beli, investasi usaha, modal bersama, atau dana kebajikan. Dalam fatwa MUI ataupun berbagai macam hukum positif yang berlaku, dikatakan bahwa untuk transaksi jual beli menggunakan akad murabahah, untuk investasi usaha menggunakan akad mudharabah, untuk kerjasama modal menggunakan akad musyarakah, dan dana kebajikan menggunakan akad qardhul hasan. Sebaliknya, wajar jika mereka yang melaksanakan aktifitas yang berkaitan dengan Keuangan Syariah tanpa mengacu kepada hukum Islam maka mereka telah melakukan dosa dan jika tidak sesuai dengan hukum positif, maka dapat dikatakan sebagai aktifitas yang illegal. Sama halnya dengan kasus “black market” diatas, atau  kasus korupsi yang tidak taat pada aturan pemerintah, dan berbagai macam kasus lainnya.

Lalu, bagaimana dengan pernikahan? Sudah banyak kajian Islam yang menjelaskan tentang pernikahan. Mulai dari tahap pra nikah, saat nikah, dan pasca nikah. Syariat pun menjelaskan tentang pernikahan secara detail, tapi untuk kali ini kita tidak berbicara pernikahan dari sudut pandang syariat. Kita coba sedikit melihat dari sudut pandang hukum positif.

Sejauh yang penulis tau, ada UU No. 1 Tahun 1974 yang mengatur tentang Perkawinan. Disana dijelaskan bahwa hubungan ‘khusus’ dengan orang yang tidak berhubungan darah secara vertical atau horizontal (non mahram dalam Islam) yang ‘dilegalkan’ oleh negara adalah Perkawinan. Nah, pertanyaan sederhananya adalah bagaimana hukumnya dengan hubungan ‘khusus’ diluar Perkawinan yang dilakukan dengan orang yang tidak berhubungan darah secara vertical atau horizontal (non mahram dalam Islam)?

Jika dalam syariat itu jelas dikatakan sebagai zina dan akan membawa masalah yang lebih panjang dan kompleks, bagaimana dengan sikap hukum positif di Indonesia? Apakah mereka yang memiliki hubungan khusus itu dapat dikatakan sebagai sikap yang melanggar hukum? Sehingga dapat dipidana ataupun diperdata? Sebagaimana mereka yang didakwa korupsi karena melanggar aturan yang berlaku, atau seperti para pengusaha “black market” yang tidak setor biaya impor barang ke pemerintah. Ah, memang agak rumit jika membicarakan hukum di Indonesia, tumpang tindih, entah mana yang lebih prioritas. Tapi tetap salut dan terus mendukung mereka yang aktif dalam proses pembuatan hukum (parlemen) di Indonesia dengan Keikhlasan dan Totalitas Perjuangan.

Secara sosial, penulis agak heran mengapa banyak yang melakukan hubungan khusus tersebut? Terserah mau disebut Cinta Satu Malam (CSM), atau Pacaran, atau Pacaran Syar’i, atau Teman Tapi Mesra (TTM), atau Hubungan Tanpa Status (HTS), atau Long Distance Relationship (LDR), atau berbagai macam istilah lainnya, yang sejatinya menurut penulis itu merugikan dan merendahkan martabat manusia yang sudah dimuliakan oleh-Nya. Misal dari sudut pandang cowok, sering dikatakan kalo gak pacaran (misalnya itu istilah yang kita gunakan untuk pembahasan kali ini) itu “cupu” (culun punya), atau gak ‘gentle’.

Agak aneh dengan konotasi ini, bukannya kalo orang pacaran itu justru orang yang “cupu” dan gak gentle? Karena dia cuma berani hubungan yang tidak terikat, informal atau bahkan illegal seperti yang dijelaskan oleh Undang-Undang di atas. Kalo ada apa-apa sama ceweknya, dia gak wajib bertanggung jawab secara formal. Kalo ceweknya laper, dia juga gak dituntut untuk ngasih makan. Kalo ceweknya ketakutan, dia gak harus ngasih perlindungan. Terus apa modalnya untuk jadi cowok yang ‘gentle’? Perasaan? Apa Nafsu?

Kalo cuman modal perasaan, sapi juga punya. Kalo nafsu, babi juga besar koq nafsunya. Liat aja, babi jantan yang lagi berhubungan intim sama babi betina, terus punya anak babi yang jantan juga. Perhatiin anak babi itu, nanti kalo udah besar, pasti ibu babi yang lahirin dia, akan berhubungan intim dengan anak babi yang sudah besar. Masa cowok yang cuma modal perasaan sama nafsu dibilang ‘gentle’, padahal kan sama aja kayak sapi ato babi.

Misal dari sudut pandang cewek, kadang saya berpikir kok mau ya cuma di kasih status thok? Kalo orang kerja itu kan sama aja kayak pegawai honorer ato freelance, bukan jadi pegawai/karyawan tetap, apalagi jadi pengusahanya. Cuma dapet fee ato bonus thok! Gak sampe dapet gaji pokok, tunjangan macem-macem, dana pensiun, THR, Jamsostek, dan berbagai macam fasilitas pekerjaan/kantor lainnya. Kenapa mereka gak minta di nikahin aja sama cowoknya? Kan bisa dapet perlindungan, kehidupan layak, kenyamanan, dan berbagai macam nikmat lainnya yang dijamin oleh aturan agama (syariat) ataupun hukum positif di Indonesia (UU), hingga pada keberkahan hidup dari-Nya. Daripada cuma dapet status thok yang sebenarnya gak dapet apa-apa, selain korban perasaan dan pelampiasan nafsu.

Jadi, kalo ada nelayan yang ambil ikan di perairan Indonesia tanpa ijin itu di billang Illegal Fishing, kalo pengusaha hutan yang nebang sembarangan tanpa ijin itu di bilang Illegal Logging, kalo para pelaku hubungan khusus di luar perkawinan itu bisa di billang Illegal Weeding gak ya?

Hhhhh……sudah dulu, si Wawan udah mau adzan subuh, waktunya kita sholat dan siap-siap untuk aktifitas hari ini. Terima kasih atas perhatiannya, semoga bermanfaat, mohon masukan, bimbingan, dan doanya ya…

Alhamdulillah…

Annida Islamic Centre

1st Floor – Bangsal 14

Pukul 04.15

.shandy.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: